at
7:28 PM
Friday, November 26, 2010
Materi: Hidup mencari keridhoan Allah
Ringkasan Materi:
Jika seorang hamba telah ridho dengan ketetapan Allah, maka hatinya akan terasa akan lapang. Allah Yang Maha Tahu tentunya paling mengetahui segala yang terbaik untuk kita. Allah memberikan segala sesuatunya sesuai dengan kondisi kita. Hendaknya kita tidak membatasi doa-doa kita hanya pada sesuatu yang menurut kita baik. Sesuatu yang menurut kita baik sebenarnya belum tentu yang terbaik di mata Allah. Jadi, daripada berdoa agar kita diperjodohkan dengan “fulanah”, agar kita diberikan jabatan tertentu, agar ini dan agar itu yang semua sifatnya duniawi, akan jauh lebih utama ketika kita berdoa agar diberikan hal yang paling baik, hal yang dapat mendekatkan kita kepadaNya. Jika seorang hamba mengejar kedekatan dengan Allah, pasti hatinya akan terasa lapang.
Sebagai bagian dari upaya kita dalam meraih ridhoNya, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan. Pertama, senantiasa menjaga agar ibadah bagus. Hal ini mencakup baik ibadah wajib maupun sunah, termasuk ketepatan waktu pelaksanaannya. Yang kedua adalah berjuang agar kita memiliki hidup yang lurus dengan melakukan yang Allah suka dan meninggalkan yang Allah benci. Salah satu contohnya adalah ketika kita dihadapkan pada pilihan bersikap; jujur tetapi dibenci orang atau berbohong demi penilaian orang lain. Untuk apa kita memilih pilihan yang akan menempatkan kita bersama kegelisahan? Sekali kita memilih jalan yang sulit, meskipun sakit dan tidak disukai orang, sesungguhnya kesakinahan yang akan dilimpahkan Allah tidak akan tergantikan. Selanjutnya, kita dapat berikhtiar secara serius. Bahkan, Nabi Muhammad SAW yang sudah mendapat jaminan Allah pun tetap bekerja keras dan profesional dalam setiap perannya. Kita pun harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Dalam pekerjaan, profesionalisme yang kita praktikkan semestinya bukanlah agar naik jabatan, dan lainnya, melainkan karena Allah.
Mari kejar ridho Allah, berusaha agar Allah menyukai kita dan berkenan untuk dekat dengan kita agar segala urusan kita dimudahkan dan hidup kita menjadi lapang. Insya Allah.(dicopas dari
sini)
at
7:25 PM
Materi: Tegakkan keadilan karena Allah
Ringkasan Materi:
Tugas kita sebagai hamba Allah di dunia adalah menegakan kebenaran. Salah satu jalan untuk menegakan kebenaran dengan berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata, adil tidak ada kaitannya dengan jumlah, tetapi adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jangan sampai apabila kita tidak suka dengan seseorang kemudian memalingkan muka dan berat sebelah, bersikap menuruti hawa nafsu amarah, sehingga membuat kita berbuat dzolim pada orang lain. Sekalipun orang lain yang mendzolimi kita, jangan sampai kita berbuat dzolim, tidak akan ada ruginya orang lain mendzolimi kita .Kita tidak boleh menilai orang lain dengan versi kita sendiri, karena yang hanya Allah-lah yang sebenar-benarnya mengetahui nilai dari setiap makhluk-Nya.
Seorang mukmin seyogyanya haus menjaga kemuliaan disisi Allah. Maka, untuk menjadi pribadi yang mulia penting untuk bersikap adil, sesuai dengan janji Allah pada firman-Nya Q.S AL Maiday ayat 8 “.....Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.....”. Tegakkan keadilan karena Allah. Tegakkan Keadilan karna Allah menyukainya. Tegakkan Keadilan agar Allah ridho pada kita. Sesungguhnya setiap perbuatan akan kembali pada diri kita sendiri. (dicopas dari
sini)
wallahu alam
materi audio: tidak ada
at
6:56 PM
Thursday, November 25, 2010
Materi: Kedewasaan adalah cermin kualitas taqwa
Ringkasan Materi:
Keberhasilan seseorang diukur dari tingkat kematangan pribadi. Semakin bertambah umur, sudah seharusnya pribadi kita semakin matang dan dewasa, diiringi juga dengan semakin meningkatnya keyakinan kepada Allah SWT. Allah mengajarkan kita dengan perilaku anak-anak yang orientasinya masih kepada diri sendiri. Pribadi yang dewasa adalah pribadi yang justru lebih memiliki manfaat untuk orang lain bukan seperti anak-anak lagi.
Dalam hadistnya, Rasulullah berpesan “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”. Hadist ini mengandung makna bahwa semakin benar pemahaman tentang kehidupan maka akan berhasil mengalahkan keegoan kita dan semakin bermanfaat bagi orang lain. Dapat menafkahkan dirinya untuk kemanfaatan orang lain itulah kedewasaan bukanlah kepentingan dirinya sendiri.
Oleh karena itu tafakurilah bersama kehidupan kita. Sesungguhnya berbuat untuk orang lain hakekatnya adalah untuk diri kita sendiri. Dalam ibadah haji juga digambarkan bagaimana pentingnya pengorbanan mementingkan orang lain lebih daripada diri sendiri. Kebodohan yang sangat besar jika kita terjebak oleh sifat kekanak-kanakan dan gagal untuk menjadi dewasa. Setiap peran yang dimiliki oleh diri kita, bagaimana hubungan kita dengan orang lain dapat menunjukan kedewasaan. Kedewasaan dalam diri kita juga merupakan cermin dari ketakwaan diri kita. (dicopas dari
sini)
wallahu alam
at
3:54 PM
Wednesday, November 24, 2010
Materi: Hakikat keselamatan
Ringkasan Materi:“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. (Q.S An-Nisaa:125)
Dari ayat tersebut dinyatakan bahwa Allah mengambil Nabi Ibrahim sebagai kesayangan Allah, atau dengan kata lain menjadikan kekasih-Nya. Mengapa beliau begitu disayang Allah? Nabi Ibrahim disayang Allah karena ketaatannya pada Allah. Dengan penuh kepasrahan diri, beliau mampu mengikhlaskan anaknya untuk disembelih demi ketaatannya pada Allah. Tidak ada ragu, tidak ada ketidakyakinan pada Allah. Selama perintah datang Allah akan beliau laksanakan dengan penuh keikhlasan. Segala kebaikan yang dilakukan hanya untuk Allah, hanya untuk menghamba pada Allah.
Ketaatan nabi Ibrahim pada Allah patut kita jadikan tauladan, sebab taat pada Allah merupakan satu-satunya jalan menuju keselamatan. Selamat tidak hanya di dunia, tetapi selamat yang sesungguhnya adalah selamat selamat di akhirat. Inilah hakikat keselamatan, yaitu selamat di akhirat, selamat dari dari hukuman Allah. Semoga kita dapat menjadi hamba Allah yang selalu taat pada Allah sehingga dapat selamat dari hukuman Allah di akhirat kelak. (dicopas dari
sini)
wallahu alam
at
4:00 AM
Saturday, November 20, 2010
Ringkasan Materi:Tinggal di Mina selama beberapa hari setelah melaksanakan serangkaian ibadah haji memiliki hikmah tersendiri. Setelah sebelumnya banyak melakukan ibadah fisik yang cukup berat maka kesempatan di tinggal Mina ini sebaiknya dimanfaatkan untuk bertafakur.
Kemampuan orang bertafakur dengan jujur, jernih, bersih akan memunculkan sifat berhati-hati. Sebaliknya, orang yang tidak punya waktu untuk merenung, selalu pontang-panting dalam pekerjaan, larut dalam hiruk-pikuk kesibukan akan cenderung tergelincir. Ibaratnya, dalam keramaian pendengaran kita menjadi kurang peka. Namun di tengah suasana yang tenang, sunyi, detak jarum jam pun dapat kita dengar.
Kita perlu untuk terus berkontemplasi. Renungkan siapa Tuhan kita. Apa yang selama ini kita sembah? Uangkah, hartakah, pekerjaankah? Apakah selama ini kita munafik? Mengapa kita selalu ingin kelihatan keren di hadapan manusia, tampil dibagus-baguskan. Apakah yang selama ini kita katakan telah sesuai dengan hati kita? Periksa lagi tentang kefasikan kita. Berapa banyak Allah telah memberikan ilmu kepada kita, dan seberapa besar yang telah kita amalkan? Apakah kita telah banyak bersyukur? Periksa juga pendengaran dan lisan kita. Telah berapa banyak ghibah yang masuk ke telinga dan berapa banyak perkataan yang keluar dari lisan kita namun tidak ada manfaatnya? Siapa saja yang haknya telah kita ambil dan siapa saja yang telah kita dzolimi?
Luangkan waktu untuk bertafakur serta meminta tolong kepada Allah. Minta ampunlah kepada Allah karena hanya Allah yang paling tahu dosa-dosa kita. Mudah-mudahan dengan bertafakur, kita bisa menemukan siapa diri kita sebenarnya dan menyadari betapa banyak nikmat karunia yang telah Allah berikan kepada kita. (dicopas dari
sini)
wallahu alam