Live Streaming Aa' gym di USTREAM

Cek terus halaman ini untuk melihat ceramah aa' secara live via ustream. Jadwal live streaming - menyusul, atau kunjungi http://www.ustream.tv/channel/aagym-dt untuk melihat rekamannya.

Kajian Asmaul Husna - tiap Kamis malam pukul 19.30 wib

Live video chat by Ustream
Showing posts with label Roni Abdul Fattah. Show all posts
Showing posts with label Roni Abdul Fattah. Show all posts

Tuesday, July 27, 2010

MQ Pagi 27 Juli 2010

Tuesday, July 27, 2010
Materi: Kemampuan menahan marah

Ringkasan Materi:
Salah satu yang dilatih melalui puasa adalah tingkat kesabaran manusia, termasuk di dalamnya ketahanan kita menguasai rasa marah. Sesungguhnya marah adalah ketidaksiapan kita menerima situasi yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dan menjelang bulan suci ramadhan ini dapat menjadi momentum bagi diri kita masing-masing untuk memperhatikan kualitas ‘sumbu’ kita masing-masing.

Suatu ketika diriwayatkan Rasulullah sedang duduk bersama Abu bakar lalu datang seseorang menghampiri dan menghina beliau, Rasulullah tenang saja demikian pula dengan Abu Bakar. Namun karena dilakukan terus menerus Abu Bakar tersulut emosinya dan berdiri bersiap untuk membalas orang yang menghina Rasul. Pada saat Abu Bakar bangkit Rasul juga bangkit tapi kemudian pergi meninggalkan kedua orang yang tersulut emosi tersebut. Abu Bakar kemudian mengejar Rasul dan bertanya, “mengapa engkau meninggalkan aku pada saat aku akan membela engkau ya rasul?” dan Rasul pun menjawab “ Sebab ketika kau duduk dan bersabar, kau dikelilingi oleh malaikat, tapi ketika kau berdiri seluruh malaikat itu pergi dan kau dikelilingi oleh syaitan”.

Secara fisik memang sebenarnya dapat terlihat bahwa orang yang sedang marah sangat dikuasai oleh syaitan. Dari profil wajah akan terlihat wajah memerah, mata membesar, napas menderu, gerakan badan tidak terkendali bahkan kadang disertai dengan tindakan merusak. Pilihan kata-kata pun saat marah menjadi tidak karuan, biasanya kata-katanya jauh dari kemuliaan sama sekali. Jika berbicara dari segi kesehatan jelas marah sangat tidak baik, tensi darah akan naik dan, saraf tertekan, asam lambung meningkat dan lain sebagainya.

Tentu menderita sekali jika menjadi orang yang mudah tersinggung, dan hidup akan terasa lebih mudah apabila kita mudah legawa memaafkan keadaan dan orang yang membuat kita kurang nyaman, serta meningkatkan kadar ketarahanan kita dalam menahan marah. Ramadhan dapat menjadi sarana meningkatkan kesabaran dan dapat kita mulai dari sekarang setengah bulan sebelumnya agar kita dapat menjadi pribadi dengan tingkat kesabaran yang lebih baik dari sebelumnya.

Ada baiknya kita berkaca pada anak kecil yang amat sangat mudah memaafkan, jarang tersinggung dan tidak pernah menyimpan dendam. Mengapa demikian mudah bagi anak kecil melakukannya?? Karena mereka berhati bersih, jadi apabila kita juga ingin menjadi pribadi yang tidak mudah marah dan mudah memaafkan, langkah pertama adalah berusaha sekuat tenaga membersihkan hati dari dosa-dosa. Berikut adalah sebuah cerita yang menggambarkan betapa kita dapat belajar dari seorang anak, semoga bermanfaat.

Kuantar kau tidur malam ini, seperti biasa bersama kita ucapkan doa sebelum tidur sambil tanganmu melingkar di leherku, kau tersenyum...Matamu menatapku, bening dan bahagia...

Sudah kau lupakan sedihmu tadi pagi saat aku marah karena kau tidak turuti perintahku...
Kulontarkan anak panah tajam kata-kata, mengkritikmu.....Berapa banyak Nak, yang menancap di hatimu sehingga ia berdarah?

Tak kau kesal padaku juga.....Padahal tadi siang aku menatapmu dengan panasnya amarah....
Hanya karena masalah sepele, yang bahkan akupun tahu kau tak bermaksud melakukannya....
Berapa banyak benih cinta dalam ladang hatimu yang hangus karena tatapanku, Nak?
Tak pernah kau jera untuk mencintaiku....Sementara tadi sore kau tertunduk saat aku tuding kau...sebab kurasa kau tak perhatikan kata-kataku...Tembuskah tombak telunjukku menusuk dalam jantungmu...Nak??

Masih tetap kau cari aku untuk memelukmu....Sesudah saat makan malam tadi aku menghukummu karena tak kau habiskan makananmu yang kubilang dibeli ayahmu dengan susah payah....Menyusutkah rasa sayang dalam kantong jiwamu karenanya,Nak?

Malam ini, kutemani kau tidur seperti biasa..Bersama kita ucapkan doa sebelum tidur...sambil tanganmu melingkar di leherku, kau tersenyum....Matamu yang mengantuk menatapku, bening dan bahagia....

Airmataku meleleh saat kau terpejam dengan senyummu masih dibibir dan tanganmu masih memeluk leherku...Aku mohon maafmu,Nak.. Ajari aku untuk mencintaimu seperti kau mencintaiku.... (dicopas dari sini)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini

View Comments

Tuesday, July 20, 2010

MQ Pagi 20 Juli 2010

Tuesday, July 20, 2010
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Penting bagi kita untuk memiliki sifat wara'

Ringkasan Materi:
Wara' adalah sifat kehati-hatian dari sesuatu yang haram. Dalam pengertian yang lebih luas, wara' juga termasuk 'tidak adanya keberanian' untuk melakukan sesuatu yang bisa membawa pada yang haram ...

Penting bagi kita untuk memliki sifat Wara', karena dengan sifat itulah kita dapat menjaga diri kita sendiri dari hal-hal yang tidak disukai Allah. Alangkah beruntungnya orang-orang yang selalu wara' dalam segala hal. Wara' ketika mendapatkan rizki dan wara' ketika menggunakannya. Seorang yang mempunyai sifat wara' akan memiliki kekuatan untuk selalu melakukan instropeksi setiap hari, setiap saat. Orang itu akan selalu bertanya tentang asal-usul hartanya, berkaca atas prilakunya setiap hari, lalu tanpa ragu-ragu bertindak melakukan perbaikan diri. Itulah seorang yang wara', yang melakukan segala sesuatunya disertai kekhawatiran atas ridhonya Allah ...

Teladan pribadi yang bersifat wara' dapat kita jumpai pada diri Khalifah Umar bin Abdul Azis. Meskipun jabatannya sebagai khalifah pendek, namun keteladanannya dalam sifat wara' telah melegenda. Salah satunya tergambar ketika sang Khalifah mematikan lampu ketika menerima tamu, dengan alasan bahwa si tamu membawa urusan pribadi, sedangkan lampu rumah beliau dibiayai oleh negara ...

Bagaimana dengan kita? seberapa jauh sifat-sifat wara' melekat dan terinternalisasi dalam diri kita? seberapa sering kita bertanya tentang kehalalan rizki yang kita terima? Tidakkah kita takut di rumah kita terselip barang haram? sudahkah kita instropeksi atas profesi dan pekerjaan kita, jangan-jangan ada barang tidak halal menjadi sumber nafkah keluarga kita?

Mari kita tumbuhkan sifat wara'. Mari kita memohon pada Sang Malik agar menolong kita, dengan menganugerahi kita sifat wara' .... (dicopas dari sini)
Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini

View Comments

Saturday, July 17, 2010

MQ Pagi 17 Juli 2010

Saturday, July 17, 2010
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Bersandar hanya kepada Allah


Ringkasan Materi:
Imam Ali pernah memberikan nasehatnya yaitu : “Barang siapa hidupnya bersandar pada harta maka hidupnya akan miskin........Barang siapa hidupnya bersandar pada harga diri maka hidupnya akan hina.......Barang siapa hidupnya bersandar pada akal maka hidupnya akan sesat...........Namun barang siapa hidupnya bersandar hanya pada Allah maka hidupnya tidak akan miskin, sesat ataupun hina”

Seringkali kita resah dan gelisah perihal rizki, padahal tiap hari dalam hidup kita Allah mencukupkan rizki bagi kita. Tugas kita di hanyalah mencari karunia Allah dan itupun tidak selalu identik dengan harta. Hal yang harus kita khawatirkan adalah apakah kita jujur saat mencari harta, bersyukur saat diberikan dan sabar saat Allah mengambilnya kembali. Dan sesungguhnya penghalang rizki kita adalah dosa kita sendiri. Dan dosa yang paling sering menjadi penghalang adalah perasaan tidak yakin, menyangsikan janji dan pertolongan allah, untuk itu periksa dan terus periksa diri sudahkah kita menyandarkan hidup kita pada Allah sang maha kaya ?? (dicopas dari sini)

Pemateri: Syech Kholil
Materi: Kisah Julaibib ra

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi saw. “Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”

“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, “menikahkan putri kalian.”

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”

“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”

“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis

“Ya. Untuk Julaibib.”

“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”

“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”

Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

***

Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya.

Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita.

Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!

***

Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.

Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulullah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasulullah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para sahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.

Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..

dia adalah bagian dari diriku
dan aku adalah bagian dari dirinya
-Rasulullah, tentang Julaibib- (dicopas dari sini)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini

View Comments

Tuesday, June 22, 2010

MQ Pagi 22 Juni 2010

Tuesday, June 22, 2010
Kemuliaan di sisi Allah swt adalah ketakwaan

Ringkasan Materi:
Kehidupan dalam dunia ini adalah sementara. Seberapa cintakah kita pada dunia? Cara mengukur hubbud dunia atau cinta dunia dapat dilihat dari 2 hal berikut:
  1. Barang yang kita miliki adalah ciptaan Allah. Jangan sampai barang yang kita miliki menjadikan kita merasa terhormat. Sesungguhnya kemuliaan di sisi Allah bukan dilihat dari harta benda yang kita miliki, melainkan ketakwaan lah yang membuat seseorang mulia di mata Allah.
  2. Kenalan kita. Terkadang kita merasa bangga memiliki teman yang punya jabatan tinggi atau terkenal. Sesungguhnya yang membuat kita bersyukur adalah ketika memiliki kenalan orang-orang yang bertakwa.
Janganlah merasa bangga dengan memiliki kenalan yang punya jabatan atau populer. Janganlah kita menebeng beken dari mereka karena sesungguhnya jabatan atau popularitas adalah aksesoris dunia. Dalam Q.S Al-Hujurat, Allah SWT berpesan dalam ayatnya bahwa sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang Bertakwa. Standar sukses dan keberhasilan seseorang dijadikan standar dalam hidup di dunia maka kita akan selalu hidup dengan topeng.

Evaluasilah diri kita setiap hari, bahwa Allah SWT yang berhak menilai. Sesungguhnya jabatan, popularitas dan semuanya yang melekat pada manusia adalah sama di mata Allah yang membedakan adalah ketakwaannya. Dan sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal dalam hidup kita. Allah SWT mengulang-ulang kata takwa di Al-Qur’an. Hal ini menandakan bahwa begitu penting dan banyak keutamaan dari takwa.

Kerugian dan kesengsaraan yang paling dirasakan oleh manusia adalah ketika menghadap Allah dengan tidak menggunakan pakaian takwa seperti dalam QS. al-A'raf (7) ayat 26. Hakekat ketakwaan di mata Allah adalah ketika kita menaati Allah di atas cahaya Allah dan meninggalkan kemaksiatan pun di atas cahaya Nya. Mari kita periksa hati kita karena sesungguhnya dunia ini hanya sementara dan semoga Allah menempatkan dunia dengan tepat di hati kita. (dicopas dari sini)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini

View Comments

Sunday, June 20, 2010

MQ Pagi 18 Juni 2010

Sunday, June 20, 2010
Pemateri: Syech Kholil dari Madinah bersama Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Makanlah sesuatu yang halal dan baik

Ringkasan Materi:
Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik, yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar-benar menyembah kepada-Nya (QS. Al Baqarah: 172)
Kenapa pada ayat ini Allah menyebut orang yang beriman? Karena orang beriman adalah orang yang hidup dalam kebenaran, berbeda dengan orang yang kafir, Allah menyebut orang kafir sebagai orang yang tuli, bisu dan buta
"Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti" (QS. Al Baqarah: 171)
Dan pahamilah, tatkala keimanan kita bertambah, maka akan bertambah pula kehidupan kita disisi Allah. Hal ini akan menyebabkan buahnya juga akan bertambah, seperti: kesungguhan untuk mengamalkan yang perbuatan yang baik. Makanan yang disebutkan pada surat Al Baqarah: 172 ini adalah makanan yang setidaknya mempunyai 2(syarat) pertama, makanan ini dihalalkan oleh Allah kedua, cara mendapatkannya juga harus halal.

Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR. Muslim)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio bisa didowload disini

View Comments

Monday, June 14, 2010

MQ Pagi 13 Juni 2010

Monday, June 14, 2010
Pemateri: Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Jangan sombong

Ringkasan Materi:
Rasulullah saw bersabda, ”Tidak akan masuk surga siapa yang didalam hatinya ada kesombongan walau seberat dzarah. Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).
Sombong merupakan penyakit hati yang berbahaya. Iblis, ketika diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s, iblis menolak dengan alasan karena dia merasa lebih baik dari Nabi Adam yang tercipta dari tanah, sedang iblis tercipta dari api.
(Allah) berfirman,"Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?" (iblis) menjawab,"Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Al A'raf: 12)
Lalu, apakah yang menyebabkan orang sombong:
  1. Ilmu
  2. Keturunan/Nasab
  3. Harta
  4. Popularitas
Allah melarang seseorang bersikap sombong, hal ini tertulis dalam QS. Luqman: 18 yang berbunyi "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri", dalam hadist qudsi Allah berfirman "Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barangsiapa yang melepas salah satu dari keduanya maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka Jahannam." (Hadits Qudsi Riwayat Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

Materi audio dapat didownload disini

View Comments

Monday, June 7, 2010

MQ Pagi 08 Juni 2010

Monday, June 7, 2010
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Jangan merasa sepi, Allah selalu bersama kita

Ringkasan Materi:
Semoga Allah menggolongkan kita menjadi orang yang tidak pernah merasa sendiri, karena memang hakekatnya kita tidak pernah benar-benar sendiri. Meskipun berada di hutan rimba yang lebat, atau kamar tertutup, di jalan sepi dan dimanapun juga sesungguhnya Allah pasti ada bersama dengan kita. Seperti dijanjikan Allah dalam penghujung ayat 4 surat Al Hadiid “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan”

Ketika kita menyadari dengan sepenuh hati bahwa Allah maha dekat dan maha mengetahui kebutuhan dan isi hati, kita tidak akan pernah merasa kesepian. Karena Allah tidak menyerupai dan diserupai apapun, tidak berarti Allah menjadi lebih jauh dari yang kita sangka. Tertulis dalam Al Quran surat Qaaf : 16 “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”

Siapapun yang memahami ayat di atas tidak akan pernah merasa sepi dan selalu ingat bahwa allah menyertai tiap langkah, tiap perbuatan dan bahkan tiap pemikiran yang melintas dalam kepala kita. Dengan menyadari hal tersebut, manusia tidak akan mudah terpancing untuk curhat permasalahan kepada manusia lain yang tidak jauh berbeda lemahnya dengan kita, tidak akan mencari perlindungan kepada mahluk lain tapi hanya selalu berlari dan berlindung serta mencurahkan seluruh isi hati pada yang menguasai setiap hati yaitu Allah. Dalam hal inipun Allah berfirman dengan sangat gamblang dalam surat al hadiid : 6 “ Dan Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia maha mengetahui segala isi hati”

Untuk Itu teruslah berzikir mengingat allah, agar kita jauh dari perasaan kesepian dan kehampaan hati karena Allah sesungguhnya terus menyertai tiap langkah kita. (dicopas dari sini)

Ikuti juga tausyiah dari Ustadz Kholil yang diterjemahkan oleh Ustadz Roni Abdul Fattah, materi hari ini tidak terlalu jauh dari materi yang disampaikan pada tanggal 13 Februari 2010 dan 30Maret 2010

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini

View Comments

Tuesday, May 4, 2010

MQ Pagi 04 Mei 2010

Tuesday, May 4, 2010
Sesi I
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Menuju Baitullah dengan berbaiksangka pada Allah

Ringkasan Materi:
Kembali pagi tadi Aa' gym memancarkan siaran dari baitullah, kali ini dari depan multazam bersama dengan rombongan kloter terakhir jemaah umrah MQtravel yang berasal dari komunitas pendengar MQpagi. Rombongan jemaah baru saja menyelesaikan ritual thawaf dan akan melanjutkan dengan sa'i dimulai dari bukit shafa.

Dalam kesempatan yang sangat singkat tersebut kita diingatkan untuk terus berbaik sangka pada Allah, diminta untuk terus memupuk niat dan usaha untuk dapat berkunjung ke baitullah dan berziarah ke makam nabi di masjid nabawi dan jangan sampai mengunci harapan hanya karena perkara uang.

Karena sesungguhnya ibadah umrah dan haji bukan hanya perkara kemampuan finansial, namun yang terpenting adalah undangan Allah. Sangat mudah bagi Allah untuk membukakan jalan dan pintu rejeki dari manapun dan siapapun bagi hamba-hamba yang menjadi undangannya. Bukan hal besar bagi Allah untuk melakukannya karena Dialah yang maha kaya dan maha baik serta maha menguasai segala kejadian.

Tugas kita adalah menghindari sedapat mungkin perasaan berburuk sangka akan pertolongan Allah, lakukan taubat yang sungguh-sungguh dan terus menyempurnakan keislaman kita. Perbaiki kualitas ibadah shalat kita, perbanyak bershadaqah dan istiqamah berusaha selalu berada di jalan yang diridhai Allah.

Apabila kita dapat terus berbaik sangka dengan segala bentuk pertolongan Allah maka insya allah Allah yang akan membukakan jalan rejeki, nikmat kesehatan dan kelapangan waktu bagi kita untuk menjadi tamunya di baitullah, Amin.

materi di copas dari sini

Sesi II
Pemateri: Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Istighfar, kunci pembuka pintu rejeki

Ringkasan Materi:
Disebutkan amalan-amalan batin yang dapat membuka pintu rejeki berdasarkan Al Quran, antara lain: istighfar, banyak sekali dalil dalam Al Quran terkait dengan istighfar yang dengannya Allah akan membukakan pintu rejeki.
maka aku katakan kepada mereka:" Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS.Nuh: 10-12)

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari yang besar (Kiamat). (QS.Hud: 3)

Dan (dia berkata): "Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS.Hud: 52)

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS.Hud: 61)
Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

MQ Pagi 03 Mei 2010

Pemateri: Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Berusahalah, Rejekimu telah dijamin

Ringkasan Materi:
Kalau kita garisbawahi tentang makna dari Sai (berusaha), itu merupakan prosesi dari Shofa (bersih) menuju Marwah (kepuasan hati). Hikmah dari prosesi ini adalah jika kita ingin berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maka mulailah dari Shofa (dari niat dan usaha yang bersih). Setelah dijalankan, lakukan prosesnya dengan penuh kesungguhan hati meskipun harus berulang-ulang. Proses ini pasti akan selesai dengan baik dan membuat hati menjadi puas. Seperti Siti Hajar yang berlari-lari tanpa menyerah demi mencari air untuk Nabi Ismail yang kemudian mendapat nikmat berupa air zam-zam yang keberkahannya bisa kita nikmati sampai sekarang. Oleh karena itu, janganlah menyerah dalam berusaha. Bila gagal, bangkit, gagal lagi, bangkit lagi. Jangan mudah menyerah.

Seperti halnya saat makan, janganlah menambah atau mengambil makanan baru sebelum makanan yang ada ditangan kita habis. Tidak ada satu makananpun yang dinikmati dengan baik, menjadi mubazir. Ibarat makanan, usaha kita juga akan menjadi sia-sia jika tidak dilakukan dengan maksimal.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman, ’wahai anak Adam beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya kupenuhi hatimu yang ada dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Kupenuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” (lihat al Musnad no.2583 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih sunan Tirmidzi 2/300, shahih sunan Ibnu Majah 2/293)

Imam al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar ia berkata Rasulullah bersabda “Tuhan kalian berkata ‘Wahai anak Adam beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya niscaya Aku penuhi hatimu dgn kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dgn rezeki. Wahai anak Adam jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dgn kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dgn kesibukan’.”
Jadi, kenapa hari-hari sibuk, pontang-panting, pergi pagi - pulang petang, tetapi kebutuhan tidak pernah tercukupi?

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini

View Comments

Tuesday, April 6, 2010

MQ Pagi 06 April 2010

Tuesday, April 6, 2010
Sesi I
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Dunia bukanlah ukuran yang sejati

Ringkasan Materi:
Kita seringkali mengukur kesuksesan, kerugian, dan keberuntungan dengan takaran duniawi. Harta, jabatan, kepopuleran, kecelakaan, dan musibah sejatinya tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai seseorang itu sukses atau tidak.

Rasul pernah ditanya, orang yang paling beruntung itu yang bagaimana? Rasul menjawab "Barang siapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang beruntung, barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang rugi, dan barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia itulah orang yang celaka"

Menurut Rasul keberuntungan itu adalah jika kualitas hidup kita hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jadi, kesuksesan dan keberuntungan tidak ditentukan dari banyaknya uang, tingginya jabatan, dan kepopuleran. Musibah yang menimpa kita pun bukan ukuran bahwa kita celaka, boleh jadi itu adalah ujian untuk membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi seorang yang makin bertaqwa. Taqwa inilah keberuntungan yang sejati.

Dicabutnya nikmat dunia bukan berarti kerugian, asal hal ini dapat makin mendekatkan kita kepada Allah. Penderitaan, baik lahir maupun batin jika disikapi dengan baik maka akan menjadi sarana untuk menggugurkan dosa, dari sini akan ada banyak hal positif yang bisa didapat antara lain: hati menjadi lembut, ibadah menjadi khusyu', akhlak menjadi lebih baik, tawadhu, dan istiqomah.

Lihatlah berapa banyak orang dengan dunia berlimpah tetapi jauh dari Allah, hatinya goyah, cenderung melakukan maksiat dan munafik.

Sesi II
Pemateri: Syech Kholil dari Madinah bersama Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Tiga hal yang mesti kita perjuangkan

Ringkasan Materi:
Berikut ini adalah doa yang senantiasa dipanjat oleh Rasulullah saw:
Allahumma inni as'aluka 'Ilman naafi'an, wa rizqan tayyiban, wa 'amalan mutaqabbalan
"Ya Allah, aku mohon kepadamu agar engkau memberi kamu ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik, dan terimalah amal ibadah kami"
Dalam doa ini Rasul memohon kepada Allah 3(tiga) hal, ketiga hal ini sebaiknya juga dapat selalu mewarnai kehidupan kita.

Ilmu yang bermanfaat - Carilah ilmu sebanyak-banyaknya baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat, jangan sampai hari-hari kita terlewati tanpa ada pertambahan ilmu.

Rejeki yang baik - Setidaknya ada 2(dua) syarat yang harus dipenuhi agar rejeki dapat dikatakan baik jika zat dan cara memperolehnya juga halal.
“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka nerakalah yang pantas baginya.” (HR. Tirmidzi)

“Sesungguhnya Allah mengharamkan surga atas tubuh yang tumbuh dengan yang haram.” (HR. Abu Nuaim)

“Kemudian Ia (Nabi Muhammad Saw) menyebut seorang laki-laki yang sudah jauh perjalanannya, kusut rambutnya dan berdebu pakaiannya, ia selalu mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa, ya Tuhan, ya Tuhan, tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan tumbuh dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doa itu akan dikabulkan oleh Allah.” (HR. Muslim)
Amal yang diterima - Ini merupakan tujuan setiap muslim, ada beberapa syarat agar amal kita diterima Allah, yaitu:
  1. dilakukan ikhlas karena Allah, bukan untuk mencari duniawi
  2. Umar bin Khatab Ra, berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” (HR. Bukhari Muslim)
  3. dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah
  4. Dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang mengamalkan suatu amal (ibadah) yang tidak pernah kami lakukan, maka amalnya itu ditolak.” (HR. Muslim)
  5. sempurna, dalam arti amal dilakukan secara murni hanya kepada Allah. Tidak boleh beribadah kepada Allah dan menyertai amalan itu dengan pergi ke dukun
Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

Sunday, April 4, 2010

MQ Pagi 04 April 2010

Sunday, April 4, 2010
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar & ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Riya (Pamer)

Ringkasan Materi:
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tak melihat bentuk badan dan rupamu tetapi melihat niat dan keikhlasan didalam hatimu.” Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya yg paling kutakuti atas kamu sekalian adl syirik kecil.” Sahabat bertanya: “Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda: “Syirik yg kecil itu adalah riya”. Riya pada dasarnya terjadi karena kita melakukan sesuatu bukan karena mengharap keridhaan Allah, tetapi karena penilaian orang lain.

Kalau belajar, lakukanlah dengan gigih tanpa berharap pujian dari makhluk, tidak usah terlalu bangga dengan pencapaian yang telah kita peroleh.

Memperlihatkan amal ibadah boleh-boleh saja, tetapi lakukanlah dengan wajar, lempeng saja. Luruskan niat (melakukan segala sesuatu hanya demi mengharapkan ridha Allah) diawal, pada saat berproses, dan diakhir usaha yang kita lakukan, mudah-mudahan kita terbebas dari penyakit hati ini.

Dengan terbebasnya dari penyakit ini, maka diharapkan hati bisa menjadi bersih dan bening, sehingga segala sesuatu yang dilakukan berbuah pahala, menjadikan kita semakin dekat dan dapat merasakan kehadiran Allah.

Ciri-ciri orang yang hatinya bening adalah:
  • senang memurnikan tauhid
  • hatinya selamat dari kesombongan
  • terus berjuang untuk menghilangkan penyakit hati
Imam Malik pernah berkata "Tidaklah aku berjumpa dengan orang lain selain aku berpikir bahwa amal dan ibadah dia lebih baik dari aku"

Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

Monday, March 29, 2010

MQ Pagi 30 Maret 2010

Monday, March 29, 2010
Sesi I
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Mencari keridhaan Allah

Ringkasan Materi:
Saat ini Aa' berada di Darul Islah, mini islamic center yang ada di Tangerang. Melihat bangunan masjid yang belum jadi seperti ini yang terlintas dalam pikiran adalah kesan bergantung kepada makhluk yang jauh lebih besar daripada bergantung pada Allah. Disetiap pembangunan masjid selalu saja terlihat orang meminta-minta, tidak peduli sudah masuk waktu sholat, tetap saja mereka meminta. Harusnya proses pembangunan masjid harus didasari dengan pondasi keimanan yang kuat. Kalau tersendat, sebaiknya periksa niat dan cara ikhtiarnya, tobat, apakah mulai melenceng ?

Saat proses membangun pasti terdapat perbedaan pendapat terkait dengan aturan pembangunan terkait madzhab tertentu dan kalau sudah selesai pasti ada perasaan merasa berjasa. Padahal, sebuah masjid bisa berdiri hanya karena kehendak Allah semata, kita hanyalah jalan.

Ini penting untuk dikoreksi, jangan sampai perjuangan kita membangun masjid menjadi sia-sia, tidak beroleh pahala lantaran sikap sombong kita. Mending mana? menghilangkan perasaan berjasa atau menghilangkan pahala?

Allah Maha Tahu kalau hati kita memang menginginkan pujian manusia, mudah bagi Allah menggerakkan hati makhluk untuk menyebut-nyebut jasa kita. Kalau hati kita memang menginginkan itu, sudah...Allah bakal memberikannya. Dan hilanglah kesempatan untuk mendapatkan ridhaNYA, karena keinginan kita sudah tercapai yaitu dipuji oleh makhluk. Maka dari itu, lakukanlah segala sesuatu hanya karena mengharap ridha Allah, seperti kisah keikhlasan seorang prajurit dibawah ini.

Suatu ketika, dalam sejarah, pasukan kaum muslimin pimpinan Maslamah bin Abdul Malik tengah kebingungan menembus benteng musuh yang telah dikepung berhari-hari. Padahal pada benteng itu ada sebuah celah yang bisa dimasuki namun nggak ada satupun orang yang bisa melakukan hal itu. Sampai suatu saat seorang prajurit — yang tidak diketahui namanya – ternyata bisa melakukannya bahkan dengan aksinya itu akhirnya kaum muslimin memperoleh kemenangan!

Jelas aja Maslamah bin Abdul Malik gembira dan ingin berjumpa dengan ’sang penakluk’ benteng nan gagah berani itu. “Aku minta agar prajurit ‘penyusup’ ke benteng musuh datang menemuiku!” pintanya.

Namun tak ada seorang pun prajurit yang datang memenuhi permintaan Maslamah. Sampai datang seseorang memasuki kemahnya. “Aku akan memberitahu pada Anda siapa prajurit itu,” kata laki-laki itu. “Tapi orang itu mengajukan tiga syarat pada Anda; pertama, janganlah Anda menuliskan namanya dalam surat Anda kepada khalifah. Kedua dan ketiga, janganlah Anda memberinya hadiah dan bertanya dari kabilah mana ia berasal.” Setelah Maslamah menyanggupi permintaan itu barulah laki-laki itu berkata, “Saya adalah orang masuk ke dalam benteng tersebut.” Dan Maslamah pun tidak pernah tahu siapa nama prajurit tersebut.

Yang terpenting dari pembangunan masjid adalah membangun yang memakmurkannya, membangun jamaah.

Sesi II
Pemateri: Syech Kholil dari Madinah bersama Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Keutamaan Akhlak Baik

Ringkasan Materi:
Melengkapi materi tentang akhlak baik yang disampaikan Syech Kholil tanggal 13 Februari 2010, ada beberapa hal yang perlu ditambahkan, yaitu:
  1. Akhlak baik akan menaikkan derajat seseorang di dunia dan akhirat
  2. “Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al Hakim)
  3. Akhlak baik adalah bukti keimanan seseorang
  4. “Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.”(HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban)
Buah dari akhlak baik ada banyak dan tidak mungkin disebutkan satu persatu, tetapi ada sebuah kisah yang dapat menggambarkan buah yang dapat dipetik dariakhlak baik.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam Oleh Bukhari dan Muslim, diriwayatkan dari Abi Mas'ud Al Badri oleh Muslim, dan diriwayatkan dari Hudzaifah olehMuslim dari Nabi s.a.w sebuah kisah.

Ada seseorang dari zaman dahulu (sebelum Nabi s.a.w) yang meninggal lalu dihisab oleh Allah amalnya, maka tidak terdapat kebaikan sedikit pun dariperbuatannya kecuali dia itu orang yang suka mempergauli manusia dalam masalah jual beli dan hutang piutang. Dia orang yang suka mempermudah urusan danmenyuruh anak-anaknya agar mempermudah urusan orang yang dalam kondisi sulit (toleran dalam hutang dan jual beli). Dalam riwayat lain laki-laki ituberkata pada anak laki-lakinya sebelum meninggal :

" Jika engkau bertemu orang yang dalam keadaan sulit, bertoleransilah (berilah tangguh hutang, atau murahkan harga barang), mudah-mudahan Allah banyakmemaafkan kesalahan kita. "

dalam riwayat Hudzaifah dikisahkan dialog dengan Allah s.w.t :

" Apa yang engkau perbuat di dunia ? "
Laki-laki itu menjawab, " Tuhanku engkau beri hamba uang, dengan uang itu hamba berjual beli dengan manusia, dan hamba mempunyai sifat toleran (sabarpada orang yang dalam kesulitan). Hamba memudahkan urusan orang-orang yang sulit dan memberi tangguh hutang (sampai mampu membayar) "

Allah berfirman, " Aku lebih berhak berbuat toleran daripada dia, jauhkanlah azabku dari hamba-Ku ini, " perintah Allah.

Semoga sedikit ilmu tentang keutamaan akhlak baik ini dapat diamalkan, bukan hanya didengar dan diketahui saja.

Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

Sunday, March 7, 2010

MQ Pagi 07 Maret 2010

Sunday, March 7, 2010
Sesi I
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Keutamaan shalawat

Ringkasan Materi:
Kemarin Aa' mendengarkan seorang ulama yang memberikan tausiah tentang keutamaan ceramah, beberapa diantaranya adalah:
  • Tidak ada amalan yang diperintahkan oleh Allah yang Allah sendiri juga melakukannya selain shalawat
  • Setiap shalawat yang kita lakukan, Allah akan membalasnya 10 kali
  • shalawat adalah amalan yang akan diijabah oleh Allah
  • shalawat adalah salah satu bukti cinta kepada Rasulullah, dan di akhirat nanti, seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya
Beberapa ulama lain juga mengatakan bahwa yang paling penting adalah meniru akhlak Rasul, tetapi shalawat juga penting, karena dalam shalawat itu ada dzikir, selain mengingat Rasul, kita juga dapat mengingat Allah, dan sebaik-baik shalawat adalah shalawat yang dicontohkan oleh Nabi.

Ulama yang menyampaikan materi ini terlihat sangat yakin dalam penyampaian materi, dalil dan hadist yang dibacakan meluncur dengan mantap dari lisannya. Ini membuat yang mendengar juga ikut menjadi yakin dan mantap. Kenapa demikian? Karena kalau kita ingin membuat orang lain yakin, maka kita harus yakin terlebih dahulu.

Di Singapura ini, kita bisa melihat kotanya begitu bersih dan tertata, padahal penduduk islamnya minoritas, hanya 15 persen. Sedangkan di beberapa tempat yang lebih islami, kenapa akhlak islamnya tidak nampak? ini dikarenakan tauhidnya tidak mantap. Kalau tauhidnya mantap akhlaknya pasti baik, seseorang yang sangat yakin bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat Mengetahui isi hati, dia pasti akan berhati-hati dalam berbicara dan berniat. Tidak akan ada kotor hati.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan keyakinan ini? Salah satu cara adalah dengan berguru dan bergaul dengan orang yang sudah yakin. Orang yang yakin kepada Allah, hatinya pasti mantap dan tenang, karena Dialah Allah yang menurunkan sakinah. Di setiap masalah yang datang akan dihadapi dengan tenang, dan berusaha menyelesaikan masalah itu dengan cara-cara yang diridhai Allah. Alih-alih memikirkan masalah, mereka lebih memikirkan bagaimana cara penyelesaian yang sesuai dengan perintah Allah.

Sesi II
Pemateri: Ustad Roni Abdul Fattah
Materi: Keutamaan shalawat

Ringkasan Materi:
Pada bulan Rabiul Awal ini kecintaan kita kepada Rasululllah diekspresikan lebih karena pada bulan ini Rasul dilahirkan.

Melanjutkan materi Aa', dalam surat QS. Al Ahzab: 56 Allah berfirman
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya"
Makna dari shalawat Allah kepada Nabi adalah bahwa Allah pujian Allah kepada Nabi dihadapan para malaikat sebagai tanda kecintaan dan kasih sayangNya kepada Nabi, sedang makna malaikat-malaikatNYA bershalawat kepada Nabi adalah para malaikat berdoa dan meminta ampunan untuk Rasul.

Lantas, bagaimana shalawat kita? Shalawat kita adalah dengan cara mengagungkan beliau, berdzikir kepada Allah, dan dengan menampakkan agama dan mendirikan syariat islam.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah shalawat kepadaku di dalamnya, karena shalawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Dawud)

Dalam sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang (apabila) namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Imam Ahmad)

Maka, tatkala mendengar nama Nabi, bershalawatlah Rasulullah bersabda, "Barangsiapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali." (HR. Muslim dari AbĂ» Hurairah).

Dan sebaik-baiknya shalawat adalah shalawat yang dicontohkan Nabi, Dari Ka’ab bin ‘Ujroh rodhiyallohu ‘anhu ia berkata: Dikatakan kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Adapun mengucapkan salam kepadamu, kami benar-benar telah mengetahuinya, lalu bagaimana (cara) bershalawat kepadamu?”
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Allohumma sholli ‘ala muhammadin wa ‘ala aali muhammadin kamaa shollaita ‘ala aali ibrohiim, innaka hamidun majiid. Allohumma baarik ‘ala muhammadin wa ‘ala aali muhammadin kamaa baarokta ‘ala aali ibrohiim, innaka hamiidun majiid. (HR. Bukhari Muslim)
Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

Thursday, February 18, 2010

MQ Pagi 19 Februari 2010

Thursday, February 18, 2010
Sesi I
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Proporsional

Ringkasan Materi:
Sebaik-baiknya urusan adalah yang pertengahan, dalam hal membelanjakan harta tidak boleh boros ataupun kikir, pada saat bersikap tidak boleh takabur ataupun minder. Islam mengajarkan untuk mengerjakan segala sesuatu secara proporsional, pas, tidak lebih dan tidak juga kurang.

Sesuatu yang dikerjakan tidak dalam porsinya akan membuat hidup menjadi tidak tenang. Hiduplah dengan normal, tidak usah ingin terlihat hebat, intelek, sholeh, mulia, ataupun kaya. Cukup tampil apa adanya, biasa saja, tidak usah bersembunyi dibalik topeng.

Dahulu, seorang istri pernah mengeluhkan sikap suaminya yang selalu berpakaian compang camping agar terlihat zuhud dan wara' kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kemudian Ali menegur sang suami agar berpakaian sewajarnya karena dia mampu untuk melakukannya. Dari kisah ini kita bisa belajar untuk menaruh segala sesuatu pada tempatnya. Adil, karena berlaku adil lebih dekat dengan taqwa.

Tambahan materi updated : 27 Maret 2010

Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib pergi menjenguk kesehatan sahabatnya al-'Ala' ibn Ziyad al-Haritsi, Al-'Ala' berkata kepadanya: Ya Amirul Mukminin, saya hendak mengadu kepada Anda tentang saudara saya, 'Ashim ibn Ziyad.

Amirul Mukminin bertanya: Ada apa dengan dia?

Al-'Ala' berkata: la memakai baju bulu domba (kasar) dan menjauhkan dirinya dari dunia.

Amirul Mukminin berkata: Hadapkan dia kepada saya.

Ketika ia tiba, Amirul Mukminin berkata: Wahai musuh diri Anda sendiri. Sungguh iblis telah menyesatkan Anda. Apakah Anda tidak merasa kasihan kepada istri dan anak-anak Anda? Apakah Anda percaya bahwa apabila Anda memakai pakaian yang dihalalkan Allah bagi Anda maka la tidak akan menyukai Anda? Anda terlalu tak penting bagi Allah untuk itu.

la berkata: Ya Amirul Mukminin, Anda pun memakai pakaian kasar dan memakan makanan kasar.

Kemudian ia menjawab: Celakalah Anda, saya tidak seperti Anda. Sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi telah mewajibkan pada pemimpin yang sesungguhnya supaya mereka menyesuaikan diri pada tingkat rakyat yang rendah sehingga orang miskin tidak menangis karena kemiskinannya.• (Nahjul Balaghah khotbah 208)

Sesi II
Pemateri: Ust. Roni Abdul Fattah
Materi: Tidak berlebih-lebihan dalam beribadah

Ringkasan Materi:
Islam dihadirkan sebagai umat wasatha, umat pertengahan. Sehingga, dalam beribadah kita tidak boleh berlebihan, beribadahlah sesuai dengan tuntunan Rasul, sebatas kemampuan kita.

Dalil berikutnya yang memerintahkan kita untuk beribadah tanpa disertai sikap ghuluw adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim rahimahumallah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Tiga orang sahabat datang ke rumah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ingin menanyakan tentang ibadah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka memperoleh kabar tentang ibadah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka merasa seakan-akan ibadah Nabi sedikit. Mereka menyatakan, “Di manakah posisi kita dibandingkan Nabi? Padahal Nabi telah mendapatkan ampunan untuk dosa yang telah lewat dan yang akan terjadi.”

Akhirnya salah seorang di antara mereka berkata, “Adapun saya, saya akan menegakkan shalat malam selamanya (tidak akan tidur malam).” Yang kedua berkata lain, “Sedangkan saya akan berpuasa selamanya dan tidak ingin berbuka walau sehari.” Adapun sahabat terakhir bertekad, “Saya akan menjauhi wanita dan tidak ingin menikah selamanya.”

Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui mereka dan bertanya: “Apakah benar kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dibandingkan kalian. Aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah dibandingkan kalian. Akan tetapi, aku berpuasa dan tetap berbuka. Aku shalat malam dan terkadang juga tidur. Aku pun menikahi kaum wanita. Maka, barangsiapa membenci sunnahku, dia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari - Muslim)

Materi: Macam Penyakit

Ringkasan Materi:
Menurut Imam Ghazali, penyakit dibedakan menjadi dua, yaitu: Penyakit Lahir dan Penyakit Batin.

Penyakit lahir ini biasanya yang punya lebih tahu dari pada orang lain, paling parah berujung pada kematian, dan bisa jadi kematian ini adalah awal dari kebahagiaan yang abadi. Sedangkan penyakit batin/hati ini biasanya orang lain lebih tahu dari yang punya, dan apabila belum sembuh, hal ini akan menimbulkan kesengsaraan, meskipun kematian datang menjemput. Tidak ada ceritanya orang masuk neraka gara-gara penyakit lahir. Tetapi, penyakit hati sangat berpotensi untuk membawa seseorang masuk neraka.
"Tidak akan masuk surga barangsiapa yang di dalam hatinya ada sebesar zarrah kesombongan. (Yaitu) menolak kebenaran dan meremehkan orang lain" (HR. Muslim)
Secara global, penyakit hati bisa disembuhkan dengan :
  1. berdoa kepada Allah agar diberi hati yang sehat
  2. membaca Al Qur'an lengkap dengan maknanya
  3. “ Dan kami turunkan Al-Quran suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan dalam Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian “ (QS. Al-Israa: 82)
  4. sholat malam
  5. berkumpul dengan orang sholeh
  6. puasa, dan
  7. berdzikir
Wallaahu a’lam bish-shawaab

catatan admin: Mohon maaf, dikarenakan ada gangguan teknis saat me-relay siaran, jadi ada beberapa point ceramah ust. Roni yang tidak saya transkrip.

View Comments

Friday, February 12, 2010

MQ Pagi 13 Februari 2010

Friday, February 12, 2010
Sesi I
Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Lokasi: Masjid Baitul Amal - Batam
Materi: Ridho


Ringkasan Materi :
Kunci dalam menghadapi setiap persoalan hidup adalah kemampuan untuk ridho, karena dengan ridho, hati akan menjadi sejahtera, jiwa menjadi tentram. Karena, dengan tidak adanya ridho akan membuat masalah terasa semakin menekan, dan pada akhirnya menyebabkan stress yang berkepanjangan.

Segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dan ijin Allah, dan pasti terbaik buat kita. Semua telah diatur dan direncanakan oleh Allah yang Maha Baik, jadi tidak mungkin ada kedzoliman.

Karena semua kebaikan "yang menimpa" kita berasal dari "sisi Allah" dan keburukan "yang menimpa" kita adalah disebabkan diri kita sendiri (dari nafs kita sendiri), karena ketika kita mengikuti segala perintah Allah dan cara-caranya, maka yang menimpa kita semuanya berupa kebaikan, dan sebaliknya.
"Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (QS. Al Baqarah: 216)
Ridho bukanlah pelarian atas kejadian yang menimpa, jangan lantas bersembunyi dibalik sikap ini ketika ada masalah menghampiri. Ridho bukan berarti berpasrah tanpa ikhtiar.

Ridho adalah awal dari solusi. Bila nasi telah menjadi bubur, yang pertama kali harus kita lakukan adalah ridho, dilanjutkan dengan mencari cakue, kacang polong, ayam dan bawang goreng. Jadikan bubur ayam special. Baru setelah itu kita evaluasi diri, kenapa kok bisa niat memasak nasi kok jadi bubur, temukan masalahnya, ambil hikmahnya, dan berubahlah untuk menjadi lebih baik.

Sesungguhnya, kita menderita bukan disebabkan kenyataan, tetapi dikarenakan tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Karena, mau ridho ataupun tidak, segala sesuatu yang ditakdirkan Allah pasti terjadi.

Setiap masalah yang ada, kejadian demi kejadian seyogyanya bisa dijadikan bahan renungan, karena tidak ada kejadian sia-sia, tidak ada kejadian kebetulan, semua telah direncanakan oleh Allah.

Sesi II
Pemateri: Syech Kholil dari Madinah bersama Al Ustadz Roni Abdul Fattah
Lokasi: Masjid Daarut Tauhid - Bandung
Materi: Akhlak Baik

Ringkasan Materi:
Buah dari akhlak baik, antara lain:
  1. Menjadi penyebab masuknya kita kedalam surga Allah swt
  2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk surga? Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Beliau juga ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk neraka, maka beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan”
    (HR. Tirmidzi, dia berkata : ‘Hadits hasan shahih).
  3. Kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah
  4. Memberatkan timbangan di hari kiamat nanti
  5. "Tidak ada sesuatu yang dapat memperberat timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari Kiamat selain kebaikan akhlaknya". (HR. Tirmidzi)
  6. Allah akan mencintai kita
  7. Rasulullah menyatakan dengan sangat gamblang bahwa hamba yang paling Allah suka adalah manusia yang paling baik akhlaknya.Hamba yang paling Allah suka di sisi-Nya adalah yang terbaik akhlaknya (Shahih al-Jami' al-Shaghir : 179)
  8. Kita akan bersama Rasul di hari kiamat
  9. “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat berkata : “Ya Rasulullah…kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiquun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong” (HR. Tirmidzi, ia berkata ‘hadits ini hasan gharib’. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi)
  10. Manusia akan mencintai kita
Akibat dari akhlak buruk, antara lain:
  1. Kita akan bangkrut dari amal kebaikan di akhirat
  2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata,
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wasallam bersabda:
    “Tahukah kamu siapa sebenarnya orang yang bangkrut?”

    Para shahabat menjawab,
    “Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda”.

    Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wasallam berkata,
    “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpah kan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikan nya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka (yang pernah dia zhalimi) ditimpakan kepadanya dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka.”
    (HR. Ibnu Hibban, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad dan selain mereka)
  3. Kita akan jauh dari majelis Nabi
Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments