Live Streaming Aa' gym di USTREAM

Cek terus halaman ini untuk melihat ceramah aa' secara live via ustream. Jadwal live streaming - menyusul, atau kunjungi http://www.ustream.tv/channel/aagym-dt untuk melihat rekamannya.

Kajian Asmaul Husna - tiap Kamis malam pukul 19.30 wib

Live video chat by Ustream
Showing posts with label Rosyida. Show all posts
Showing posts with label Rosyida. Show all posts

Wednesday, August 4, 2010

MQ Pagi 04 Agustus 2010

Wednesday, August 4, 2010
Pemateri: Ustadzah Rosyida
Materi: Mencari ridho Allah dalam setiak aspek kehidupan

Ringkasan Materi:
Fatimah Az-Zahra adalah putri Rasulullah SAW yang lahir di Kota Mekkah pada saat pembangunan Ka’bah. Fatimah Az-Zahra memiliki nasab yang sangat baik. Ayahnya adalah Muhammad SAW, seorang guru dan dermawan yang terbaik bagi umat manusia. Ibunya adalah Ummul mukminin Khadijah ra., yaitu istri Rasulullah yang merupakan salah satu dari empat wanita penghuni surga yang paling mulia. Suaminya adalah Ali bin Abi Thalib yang tingkat kesholehannya sudah tidak diragukan lagi. Dan pamannya adalah singa Allah yaitu Hamzah.

Dapat kita perhatikan bahwa Fatimah Az-Zahra dikelilingi oleh orang-orang yang punya kualitas keimanan dan kesholehan yang sangat baik. Fatimah Az-Zahra sangat mengetahui dan mengikuti masa-masa berat dakwah Rasulullah SAW di Mekkah.

Sejak kecil, Fatimah Az-Zahra sudah merasakan pedihnya dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW betapa kaum quraisy begitu menolak dakwah Rasulullah sehingga segala bentuk gangguan kepada Rasulullah dilakukan oleh kaum quraisy. Kondisi inilah yang menjadikan Fatimah sabar dan tegar menghadapinya. Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi remaja yang sholehah meskipun mengalami penderitaan yang sangat gelap dan Fatimah Az-Zahra selalu mendampingi ayahnya yaitu Rasulullah SAW dalam menghadapi ujian ini.

Fatimah Az-Zahra juga diberi gelar sebagai Ummu Abbisah, karena kemampuannya menggantikan posisi ibunya, Khadijah, yang telah meninggal dunia. Posisi Khadijah dalam rumah tangga sangat baik dilakukan oleh Fatimah Az-Zahra. Pada tahun kedua Hijriah, pada saat setelah perang Badar, Ali bin Abi Thalib meminang Fatimah Az-Zahra, tidak ada penolakan dari Fatimah Az-Zahra karena sudah sangat tahu dengan kesholehan yang dimiliki oleh calon suaminya.

Pernikahan Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib adalah pernikahan yang barokah walaupun kehidupannya penuh dengan keterbatasan. Kehidupan mereka adalah kehidupan manusia biasa dimana ada pertengkaran di dalamnya. Namun, semua itu tidak terlepas dari kebahagiaan yang mereka alami yaitu dengan lahirnya empat orang anak, yaitu Hasan, Husein, Zaenab dan Ummu Kultsum. Dua anak lelaki yaitu hasan dan husein merupakan cucu yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW.

Begitulah kehidupan seorang Fatimah Az-Zahra yang hidup dengan ketakwaan, pengorbanan dan perjuangan. Fatimah Az-Zahra adalah salah satu wanita penghuni surga yang paling mulia selain Khadijah, Maryam, dan Asiyah. Selain terkenal karena kemurahan hatinya, Fatimah Az-Zahra termasuk perempuan yang sukses dalam mendidik anak-anaknya contohnya Hasan dan Husein yang menjadi pemuda-pemuda pemberani. (dicopas dari sini)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

Wednesday, July 7, 2010

MQ Pagi 07 Juli 2010

Wednesday, July 7, 2010
Pemateri: Ustadzah Rosyida
Materi: Maimunah binti al-Harits


Ringkasan Materi:
Maimunah binti al-Harits adalah istri Rasulullah yang sangat mencintai beliau dengan tulus selama hidupnya. Dalam keluarganya, Maimunah termasuk dalam tiga bersaudara yang memeluk Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah, “Al-Mu’minah adalah tiga bersaudara, yaitu Maimunah, Ummu-Fadhal, dan Asma’.”

Maimunah dilahirkan enam tahun sebelum masa kenabian, sehingga dia mengetahui saat-saat orang-orang hijrah ke Madinah. Dia banyak terpengaruh oleh peristiwa hijrah tersebut dan juga banyak dipengaruhi kakak perempuannya, Ummul-Fadhal, yang telah lebih dahulu memeluk Islam, namun dia menyembunyikan keislamannya karena merasa bahwa lingkungannya tidak mendukung.

Dia menikah dengan Ibnu Mas’ud bin Amru bin Ats-Tsaqafi sebelum Islam, namun kemudian bercerai. Setelah itu dia menikah dengan Abu Ruham bin Abdul Uzza, seorang musyrik yang mati dalam keadaan syirik. Akhirnya, Maimunah tinggal bersama saudara perempuannya, Ummul Fadhal, istri Abbas bin Abdul Muththalib.

Suatu ketika, kepada kakaknya, Maimunah menyatakan niat penyerahan dirinya kepada Rasulullah. Ummul-Fadhal menyampaikan berita itu kepada suaminya sehingga Abbas pun mengabarkannya kepada Rasulullah. Rasulullah mengutus seseorang kepada Abbas untuk meminang Maimunah. Betapa gembiranya perasaan Maimunah setelah mengetahui kesediaan Rasulullah menikahi dirinya. Dialah satu-satunya wanita yang dengan ikhlas menyerahkan dirinya kepada Rasulullah ketika keluarganya hidup dalam kebiasaan jahiliyah. Allah telah menurunkan ayat yang berhubungan dengan dirinya:
“.. dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukminin…” (QS. Al-Ahzab:50)
Pernikahan Maimunah dengan Rasulullah dilaksanakan pada tahun ke-7 hijriah, setelah perjanjian Hudaibiyah dan Rasulullah bersama kaum muslimin memasuki Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah qada.

Keteladanan yang dapat diambil dari beliau adalah:
  1. Maimunah memperlakukan istri-istri Rasulullah yang lain dengan baik dan penuh hormat dengan tujuan mendapatkan kerelaan hati beliau semata. Aisyah menggambarkannya sebagai berikut. “Demi Allah, Maimunah adalah wanita yang baik kepada kami dan selalu menjaga silaturahmi di antara kami.”
  2. Maimunah dikenal dengan kezuhudannya, ketakwaannya, dan sikapnya yang selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Riwayat-riwayat pun menceritakan penguasaan ilmunya yang luas.
  3. Maimunah adalah wanita pemberani dan berjiwa patriotik, dia tak segan-segan bersikap keras kepada para pelaku kemaksiatan, meskipun orang itu adalah kerabatnya sendiri. Ibnu Sa’ad menyebutkan, dari Yazid bin Al-Asham, dia berkata, “Pada suatu hari, seorang laki-laki kerabat Maimunah datang kepadanya. Dari laki-laki tersebut tercium bau minuman keras. Lantas Maimunah berkata dalam keadaan marah, “Demi Allah, mengapa engkau tidak keluar ke tengah-tengah kaum muslimin, lantas mereka akan mencambukmu?”
  4. Maimunah adalah seorang sahabat wanita yang memiliki kontribusi banyak dalam ranah jihad fi sabilillah. Maimunah ikut membantu mengobati tentara Islam yang terluka, membawa air dan menuangkannya ke mulut para mujahid yang kehausan di medan tempur. Tak hanya itu, dia juga membawakan untuk mereka perbekalan makanan.
  5. Setelah Rasulullah SAW wafat tinggallah Maimunah sendirian hingga 50 tahun. Semuanya beliau jalani dgn baik dan takwa serta setia kepada suaminya. Hingga karena kesetiaannya kepada suaminya beliau berpesan agar dimakamkan di tempat dilaksanakannya Walimatul ‘Ursy dgn Rasulullah
Semoga kaum muslimah bisa meneladani kisah hidup dan keutamaan dari Ummul Mu’minin Maimunah tersebut. (dicopas dari sini)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

Thursday, June 3, 2010

MQ Pagi 02 Juni 2010

Thursday, June 3, 2010
Pemateri: Ustadzah Rosyida
Materi: Belajar Sabar dan Tawakal dari Kisah Ummu Habibah R.A

Ringkasan Materi:
Ada banyak kisah shahabiyah yang patut diteladani, salah satunya adalah istri Rasulullah SAW yaitu Ramlah binti Abi Sufyan atau lebih dikenal dengan Ummu Habibah. Ummu Habibah R.A dilahirkan pada 17 tahun sebelum kenabian oleh seorang ibu bernama Sofiah, yang merupakan bibi dari khalifah Ustman bin Affan. Keislaman Ummu Habibah diperoleh bersama suami pertamanya yaitu Ubaidilah pada saat mengatahui kenabian Rasulullah SAW. Untuk menghindari siksaan kaum quraisy saat itu, maka Ummu Habibah beserta suaminya dan orang-orang yang waktu itu baru masuk Islam hijrah ke Habsyah atas perintah Rasulullah SAW.

Namun, kehidupan Ummu Habibah setelah hijrah dipenuhi dengan banyak cobaan, yang diawali dengan murtadnya Ubaidilah kembali memeluk Nasrani. Karena Allah SWT telah berpesan bahwa seorang muslimah tidak boleh menikah dengan non muslim, maka Ummu Habibah memutuskan untuk bercerai. Setelah perceraiannya ini, kehidupan Ummu Habibah mengalami penderitaan, terlebih lagi ayahnya Abu Sufyan yang belum berhijrah ke Islam memaksa Ummu Habibah untuk keluar dari Islam. Namun, Ummu Habibah sangat yakin dengan ayat Al-Qur’an Surat At-Thalaq (65) ayat 2 bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Ayat ini sangat melekat di diri Ummu Habibah, sehingga buah dari ketawakalannya, datanglah sebuah isyarat lewat mimpi akan dinikahi oleh Rasulullah SAW. Singkat cerita, ternyata benar adanya Rasulullah SAW akan menikahi Ummu Habibah dan pernikahannya adalah pernikahan yang diberkahi Allah SWT. Dalam hidupnya bersama Rasulullah SAW, Ummu Habibah sangat memegang dien yaitu tegas terhadap musuh Islam tapi berlemah lembut kepada sesama muslim.

Dari carita Ummu Habibah ini, ada 3 keutamaan yang bisa diteladani, yaitu:
  1. Ummu Habibah R.A adalah seorang yang sangat tabah dan sabar menghadapi cobaan dengan meyakini ayat-ayat Allah
  2. Ummu Habibah selalu menjadikan Allah sebagai tempat bersandar, tidak ada kekuatan lain selain kekuatan Allah SWT.
  3. Ummu Habibah menjadi istri Rasulullah yang keras terhadap kaum kafir, terutama yang memusuhi Islam
Semoga kaum muslimah bisa meneladani kisah hidup dan ketiga keutamaan dari Ummul Mu’minin Habibah R.A tersebut. (dicopas dari sini)

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini


View Comments

Wednesday, May 5, 2010

MQ Pagi 05 Mei 2010

Wednesday, May 5, 2010
Pemateri: Ustadzah Rosyida
Materi: Shafiyyah binti Huyay

Ringkasan Materi:
Nama lengkapnya adalah Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin al-Kham bin Yakhurn dari keturunan Harun bin Imran. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan 3 (tiga) tahun setelah masa kenabian Rasulullah saw. Ayahnya adalah seorang pemimpin Bani Nadhir.

Beliau termasuk wanita yang cerdas dan cantik, bahkan sebelum masuk islam beliau terkenal sebagai wanita yang memegang teguh agama lamanya. Sayyidah Shafiyyah bin Huyay r.a. telah dua kali menikah sebelum dengan Rasulullah. Suami pertamanya bernama Salam bin Musykam, salah seorang pemimpin Bani Quraizhah. Suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abil Hafiq. Semasa menikah dengan suami keduanya Shafiyyah pernah bermimpi bahwa dia melihat bulan dari Yatsrib yang masuk ke kamar dan jatuh ke pangkuannya, hal ini beliau ceritakan kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya. Luka di wajah ini pun sempat dilihat oleh Rasulullah, hal ini menyebabkan Rasullah bertanya dan Shafiyyah pun menceritakan sebabnya.

Kisah tentang beliau sangat banyak kaitannya dengan politik pemerintahan yang dilakukan oleh Rasulullah saw, jadi kisah ini tidak terlepas dari upaya Rasulullah saw saat menjadi kepala negara di Madinah pada saat itu yang hendak menaklukkan Yahudi di Khaibar. Setelah melakukan perjanjian dengan kaum Quraisy di Hudaibiyah untuk tidak membantu Yahudi Khaibar bila hendak menyerang kaum muslim, maka Rasul pun dapat berkonsentrasi penuh untuk menaklukkan Khaibar. Khaibar terkenal memiliki benteng yang sangat kokoh dan sulit untuk ditaklukkan, karena secara umum kaum Yahudi tidak pandai berperang.

Lebih kurang pada tahun 6 H, Rasulullah saw menyiapkan penaklukan Khaibar. Sebelum menyerang, selalu Rasulullah menawarkan pilihan, mau masuk islam atau mereka tetap dengan agamanya yang lama tetapi tunduk kepada aturan-aturan islam dalam hal kehidupan sehari-hari, bukan dalam hal yang berkaitan dengan ibadah agama mereka. Maka, ketika kedua pilihan ini tidak dihiraukan, langkah terakhir adalah dengan berperang.

Pada saat inilah terjadi peperangan yang sangat 'alot', tetapi Allah pada akhirnya memberikan kemenangan dengan diruntuhkannya benteng Khaibar satu-persatu. Dikisahkan, tawanan wanita dibawa kehadapan Rasulullah, diantaranya ada Shafiyyah. Bilal membawa Shafiyyah bersama sepupunya menghadap Nabi saw, di sepanjang jalan yang dilaluinya terlihat mayat-mayat tentara kaumnya yang dibunuh. Hati Shafiyyah sangat sedih melihat keadaan itu, apalagi jika mengingat bahwa dirinya menjadi tawanan kaum muslimin. Rasulullah saw memahami kesedihan yang dialaminva, kemudian beliau bersabda kepada Bilal, “Sudah hilangkah rasa kasih sayang dihatimu, wahai Bilal, sehingga engkau tega membawa dua orang wanita ini melewati mayat-mayat suami mereka?”

Rasulullah saw pun menikahi Shafiyyah. Pernikahan beliau dengan Shafiyyah didasari beberapa landasan. Shafiyyah telah mernilih Islam serta menikah dengan Rasulullah ketika beliau memberinya pilihan antara memeluk Islam dan menikah dengan beliau atau tetap dengan agamanya dan dibebaskan sepenuhnya. Ternyata Shafiyyah memilih untuk tetap bersama Nabi.

Rasulullah saw. menghormati Shafiyyah sebagaimana hormatnya beliau terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi, istri-istri beliau menyambut kedatangan Shafiyyah dengan wajah sinis karena dia adalah orang Yahudi, di samping juga karena kecantikannya yang menawan. Dalam riwayat, ketika itu Shafiyyah mendengar obrolan Hafshah dan Aisyah tentang dirinya dan mengungkit-ungkit asal-usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis. Rasulullah menghiburnya, ‘Mengapa tidak engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa”

Wallaahu a’lam bish-shawaab

materi audio dapat didownload disini

View Comments

Tuesday, April 6, 2010

MQ Pagi 07 April 2010

Tuesday, April 6, 2010
Pemateri: Ustadzah Rosyida
Materi: Juwairiyah Binti Al-Harits, wanita yang membawa berkah bagi kaumnya

Ringkasan Materi:
Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin Al-Habib Al-Khuza’iyah Al-Mushthaliqiyah adalah putri dari Al Harits bin Abu Dhirar pemimpin Bani Musthaliq. Sebelum memeluk islam beliau bernama Burrah, Juwairiyah dikenal sebagai gadis yang luas ilmunya dan baik akhlaknya.

Setelah kemenangan kaum muslimin atas Bani Musthaliq dalam Perang Muraisi, Juwairiyah termasuk salah satu tawanan perang yang diberikan untuk Tsabit bin Qais bin Syamas. Begitu mengetahui dirinya menjadi tawanan, Juwairiyah mengajukan keinginannya untuk membebaskan diri kepada Tsabit dan Rasulullah saw.

Saat diijinkan bertemu Rasulullah, dia berkata, "Rasulullah, aku Burrah, putri dari Al Harits. Ayahku adalah pemimpin kaumku. Sekarang aku ditimpa kemalangan dengan menjadi tawanan perang dan jatuh ke tangan Tsabit bin Qais. Ia memang lelaki baik, tidak pernah berlaku buruk padaku. Namun ketika kukatakan aku ingin menebus diri, ia membebaniku dengan sembilan keping emas. Maka kupikir lebih baik minta perlindungan padamu. Tolong, bebaskan aku!"

Rasulullah berpikir sejenak. Iba hati Rasulullah menyaksikan Juwairiyah, seorang wanita terhormat yang tiba-tiba berubah menjadi budak. Lalu Rasul balik bertanya, "Maukah engkau yang lebih baik dari itu?"
Jawaban Rasulullah kemudian membuat Juwairiyah tercengang, namun wajahnya berseri-seri. Betapa tidak, selain Rasulullah sendiri yang akan membayar tebusan, Rasulullah pun melamarnya. Dengan senyuman, Juwairiyah menerima pinangan Rasulullah, lalu memeluk Islam.

Setelah itu tersebarlah berita bahwa Rasulullah saw telah menikahi Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar, maka orang-orang berkata:"Kalau Rasul menikahi Juwairiyah maka tawanan kita adalah kerabat Rasulullah saw, maka mereka melepaskan tawanan perang yang mereka bawa, hal ini menyebabkan Bani Musthaliq berbondong-bondong memeluk islam". Bahkan, Aisyah ra mengatakan "Aku tidak mengetahui jika ada seorang wanita yang lebih banyak berkahnya terhadap kaumnya daripada Juwairiyah."

Mendengar putrinya berada dalam tawanan kaum muslimin, al-Harits bin Abu Dhirar mengumpulkan puluhan unta dan dibawanya ke Madinah untuk menebus putrinya. Sebelum sampai di Madinah dia berpendapat untuk tidak membawa seluruh untanya, dan menyembunyikan dua ekor unta yang terbaik. Lalu dia pergi ke Madinah dan menemui Rasulullah. Maka Nabi saw bersabda:"Bagaimana pendapatmu seandainya anakmu disuruh memilih diantara kita, apakah anda setuju?".

"Baiklah", katanya. Kemudian ayahnya mendatangi Juwairiyah dan menyuruhnya untuk memilih dirinya dengan Rasulullah maka Juwairiyah menjawab,"Aku memilih Allah dan Rasul-Nya"

Setelah itu Rasul menanyakan perihal dua ekor unta yang disembunyikan. Mendengar pertanyaan itu Al Harits langsung terperangah, hatinya terguncang hingga tampak bingung. Lalu ia berkata, "Demi Allah, kau benar-benar utusan Allah. Tak ada yang tahu masalah ini selain Allah." Ia lalu masuk Islam, dan secara serentak diikuti seluruh kaumnya.

Juwairiyah telah memeluk Islam dan keimanan di hatinya telah kuat. Semata-mata dia mengikhlaskan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Abbas banyak meriwayatkan shalat dan ibadahnya, di antaranya, "Ketika itu Rasulullah saw hendak melakukan shalat fajar dan keluar dan tempatnya. Setelah shalat fajar dan duduk hingga matahari meninggi, beliau pulang, sementara Juwairiyah tetap dalam shalatnya. Juwairiah berkata, 'Aku tetap giat shalat setelahmu, ya Rasulullah.’ Nabi bersabda, 'Aku akan mengatakan sebuah kalimat setelahmu. Jika engkau kenjakan, niscaya akan lebih berat dalarn timbangan, 'Maha Suci Allah, sebanyak yang Dia ciptakan. Maha Suci Allah Penghias Arasy-Nya. Maha Suci Allah, unsur seluruh kalimat-Nya' "

Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw masuk ke rumah Juwairiyah binti Harits pada hari Jumat sedang ia sedang berpuasa. Lalu Nabi bertanya kepadanya "Apakah engkau berpuasa kemarin?" Dia menjawab "Tidak" dan besok apakah engkau bermaksud ingin berpuasa? "Tidak" jawabnya. Kemudian Nabi bertanya lagi dia menjawab tidak pula. "Kalau begitu berbukalah sekarang!"

Begitulah, ada banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan hidup Juwairiyah binti Al-Harits, seorang muslimah yang cerdas, berani mengeluarkan pendapat, mampu menjaga kehormatan (berupaya sekuat tenaga melepaskan diri dari status tawanan perang), taat beribadah, suka belajar, dan bisa menerima kritik dan memperbaiki diri atas kesalahan yang pernah dilakukan.

Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments

Tuesday, March 2, 2010

MQ Pagi 03 Maret 2010

Tuesday, March 2, 2010
Sesi I
Pemateri: Ustadzah Rosyida
Materi: Zainab binti Jahsy

Ringkasan Materi:
Zainab binti Jahsy adalah putri dari bibi Rasulullah yang bernama Umaymah binti Abdul Muthalib bin Hasyim. Beliau lahir di Mekkah 17 tahun sebelum kenabian. Zainab termasuk salah satu wanita pertama yang ikut hijrah.

Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang memerintahkan Zainab menikah dengan Zaid bin Haritsah. Zaid adalah budak Khadijah binti Khuwailid yang dihadiahkan kepada Rasulullah, yang kemudian dimerdekakan dan diangkat menjadi anak. Setelah diangkat menjadi anak, Rasul merubah nama Zaid bin Haritsah menjadi Zaid bin Muhammad. Tetapi setelah turunnya ayat
"Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab: 5)
Rasulullah mengembalikan nama Zaid kembali menjadi bin Haritsah.

Pernikahan Zainab dan Zaid adalah atas permintaan Rasul. Sebelumnya, Zainab telah dilamar oleh beberapa orang Quraisy, karena tidak tahu harus berbuat apa, maka Zainab mengutus Hamnah (saudara perempuan Zainab) untuk meminta pendapat Rasulullah. Begitu Rasul mengutarakan keinginan untuk menikahkan Zainab dengan Zaid, Hamnah menjawab "Wahai rasul, apakah engkau tega menikahkan sepupumu dengan pelayanmu?", hal ini terjadi karena kebiasaan kaum Quraisy yang menikahkan seseorang yang sederajat, bangsawan dengan bangsawan, pelayan dengan pelayan.

Sesampai di rumah, Hamnah memberitahu Zainab perihal jawaban Rasulullah, Zainab marah, karena respon inilah turun ayat
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata" (QS. Al Ahzab: 36).
Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Rasulullah ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah menyuruhnya untuk bersabar dan bertaqwa kepada Allah, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.

Sebelum Zaid bercerai Nabi pernah datang ke rumah Zaid untuk mencarinya dan tidak menemukan dia di sana. Pada saat itu Zainab keluar untuk menyapa Rasul dengan memakai baju rumah, tapi Nabi memalingkan muka darinya. Zainab berkata, “Dia tidak ada di sini, Nabi, masuklah. Demi bapak dan ibuku.” tetapi Nabi menolak untuk masuk. Karena kejadian ini, hati Rasul tertarik pada Zainab. Dia pergi sambil menggumamkan sesuatu yang hampir tidak dapat dimengerti selain kalimat ini, ”Terpujilah Allah yang membolak-balikkan hati.”

Ketika Zaid tiba di rumah, Zainab memberitahu dia Nabi telah datang. Zaid bertanya, “Apakah Engkau menyuruhnya masuk?”
Dia menjawab, “Ya, tapi beliau menolak.”
“Beliau bicara apa?” tanya Zaid
Zainab menjawab, “Ketika dia berbalik pergi, aku dengar dia mengucapkan sesuatu yang hampir tidak dapat aku mengerti. Aku hanya mendengar beliau berkata, “Terpujilah Allah yang membolak-balikkan hati,” Karena peristiwa ini, turunlah ayat
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab: 59)
Setelah Zaid bercerai, ada Rasulullah berkeinginan menikahi Zainab, tetapi karena takut kepada pandangan orang Quraisy beliau mengurungkan niatan itu. Pada saat itu ada pandangan bahwa ayah angkat tidak boleh menikahi mantan isti dari anak angkatnya. Tetapi, setelah Allah menurunkan ayat
"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi." (QS. Al Ahzab: 37)
Rasul pun mengkhitbah Zainab, untuk kemudian menikahinya.
Anas r.a. berkata bahwa ketika masa 'iddah Zainab sudah berakhir, Rasulullah saw. bersabda kepada Zaid: "Lamarkanlah aku kepadanya." Zaid segera berangkat menemui Zainab yang waktu itu sedang membuat adonan roti. Selanjutnya Zaid menuturkan: "Begitu aku melihatnya, dadaku bergetar keras, sampai-sampai aku tidak kuasa untuk memandangnya, apalagi untuk menyampaikan lamaran Rasulullah saw. Dengan perasaan tidak karuan dan sambil membelakang, aku paksakan berbicara: 'Wahai Zainab, Rasulullah saw. mengutusku untuk melamarmu.'" Zainab berkata: "Aku tidak bisa berbuat sesuatu sebelum aku shalat istikharah kepada Tuhanku." Lalu Zainab berdiri menuju masjidnya. Ayat Al-Qur'an turun, berbunyi: "Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya." Sesaat kemudian datanglah Rasulullah saw., lalu langsung menemuinya tanpa izin ... (HR. Muslim)
Ada beberapa persepsi keliru mengenai kejadian ini, saat menikah hendaknya kita memperhatikan keadaan kita, apakah sekufu atau tidak, karena kalau tidak sekufu/setara, rumah tangga tidak akan harmonis. Hal ini didasarkan pada pernikahan Zaid dan Zainab. Hal ini tidak benar. Peristiwa ini terjadi adalah untuk menghapus hukum jahiliyah yang tidak memperbolehkan mantan istri anak angkat dan ayah angkat menikah.
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
Islam hanya memandang kesetaraan dalam hal akidah, bukan dalam hal status sosial, kekayaan, kepintaran ,dan hal duniawi lainnya.

Beberapa keistimewaan Zainab:
  1. Zainab adalah istri Nabi yang paling rajin bersedekah. Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.
  2. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau
  3. Aisyah mengatakan bahwa beberapa orang istri Nabi saw. bertanya kepada Nabi saw.: "Siapa di antara kami yang paling cepat menyusulmu?" Beliau menjawab: "Orang yang paling panjang tangannya di antara kalian." Lalu mereka mengambil tongkat untuk mengukur panjang hasta/tangan mereka. Ternyata Saudah yang paling panjang tangannya. Maka tahulah kami setelah itu (setelah wafatnya Zainab) bahwa yang dimaksud dengan panjang; tangan itu adalah yang paling banyak sedekahnya. Dan adalah Zainab orang yang paling cepat di antara kami menyusul Rasulullah saw. Zainab adalah orang yang paling suka bersedekah." (Bukhari Muslim)
  4. Kebanggaan zainab menjadi istri Nabi
  5. Anas berkata: "Zainab merasa bangga di atas istri-istri Nabi saw. yang lain. Dia berkata: 'Kalian dikawinkan oleh keluarga kalian, sementara aku dikawinkan oleh Allah SWT dari atas langit yang tujuh ..." (HR Bukhari)
  6. Zainab adalah muslimah yang sami'na wa ata'na dalam menjalankan perintah Allah dan Rasulnya.
Mari menumbuhkan kekuatan untuk bisa menjalankan semua perintah Allah dan Rasulnya.

Wallaahu a’lam bish-shawaab

View Comments