Live Streaming Aa' gym di USTREAM
Kajian Asmaul Husna - tiap Kamis malam pukul 19.30 wib
Live video chat by Ustream
Tuesday, July 27, 2010
MQ Pagi 27 Juli 2010
at 11:27 PM Tuesday, July 27, 2010Ringkasan Materi:
Salah satu yang dilatih melalui puasa adalah tingkat kesabaran manusia, termasuk di dalamnya ketahanan kita menguasai rasa marah. Sesungguhnya marah adalah ketidaksiapan kita menerima situasi yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dan menjelang bulan suci ramadhan ini dapat menjadi momentum bagi diri kita masing-masing untuk memperhatikan kualitas ‘sumbu’ kita masing-masing.
Suatu ketika diriwayatkan Rasulullah sedang duduk bersama Abu bakar lalu datang seseorang menghampiri dan menghina beliau, Rasulullah tenang saja demikian pula dengan Abu Bakar. Namun karena dilakukan terus menerus Abu Bakar tersulut emosinya dan berdiri bersiap untuk membalas orang yang menghina Rasul. Pada saat Abu Bakar bangkit Rasul juga bangkit tapi kemudian pergi meninggalkan kedua orang yang tersulut emosi tersebut. Abu Bakar kemudian mengejar Rasul dan bertanya, “mengapa engkau meninggalkan aku pada saat aku akan membela engkau ya rasul?” dan Rasul pun menjawab “ Sebab ketika kau duduk dan bersabar, kau dikelilingi oleh malaikat, tapi ketika kau berdiri seluruh malaikat itu pergi dan kau dikelilingi oleh syaitan”.
Secara fisik memang sebenarnya dapat terlihat bahwa orang yang sedang marah sangat dikuasai oleh syaitan. Dari profil wajah akan terlihat wajah memerah, mata membesar, napas menderu, gerakan badan tidak terkendali bahkan kadang disertai dengan tindakan merusak. Pilihan kata-kata pun saat marah menjadi tidak karuan, biasanya kata-katanya jauh dari kemuliaan sama sekali. Jika berbicara dari segi kesehatan jelas marah sangat tidak baik, tensi darah akan naik dan, saraf tertekan, asam lambung meningkat dan lain sebagainya.
Tentu menderita sekali jika menjadi orang yang mudah tersinggung, dan hidup akan terasa lebih mudah apabila kita mudah legawa memaafkan keadaan dan orang yang membuat kita kurang nyaman, serta meningkatkan kadar ketarahanan kita dalam menahan marah. Ramadhan dapat menjadi sarana meningkatkan kesabaran dan dapat kita mulai dari sekarang setengah bulan sebelumnya agar kita dapat menjadi pribadi dengan tingkat kesabaran yang lebih baik dari sebelumnya.
Ada baiknya kita berkaca pada anak kecil yang amat sangat mudah memaafkan, jarang tersinggung dan tidak pernah menyimpan dendam. Mengapa demikian mudah bagi anak kecil melakukannya?? Karena mereka berhati bersih, jadi apabila kita juga ingin menjadi pribadi yang tidak mudah marah dan mudah memaafkan, langkah pertama adalah berusaha sekuat tenaga membersihkan hati dari dosa-dosa. Berikut adalah sebuah cerita yang menggambarkan betapa kita dapat belajar dari seorang anak, semoga bermanfaat.
Kuantar kau tidur malam ini, seperti biasa bersama kita ucapkan doa sebelum tidur sambil tanganmu melingkar di leherku, kau tersenyum...Matamu menatapku, bening dan bahagia...
Sudah kau lupakan sedihmu tadi pagi saat aku marah karena kau tidak turuti perintahku...
Kulontarkan anak panah tajam kata-kata, mengkritikmu.....Berapa banyak Nak, yang menancap di hatimu sehingga ia berdarah?
Tak kau kesal padaku juga.....Padahal tadi siang aku menatapmu dengan panasnya amarah....
Hanya karena masalah sepele, yang bahkan akupun tahu kau tak bermaksud melakukannya....
Berapa banyak benih cinta dalam ladang hatimu yang hangus karena tatapanku, Nak?
Tak pernah kau jera untuk mencintaiku....Sementara tadi sore kau tertunduk saat aku tuding kau...sebab kurasa kau tak perhatikan kata-kataku...Tembuskah tombak telunjukku menusuk dalam jantungmu...Nak??
Masih tetap kau cari aku untuk memelukmu....Sesudah saat makan malam tadi aku menghukummu karena tak kau habiskan makananmu yang kubilang dibeli ayahmu dengan susah payah....Menyusutkah rasa sayang dalam kantong jiwamu karenanya,Nak?
Malam ini, kutemani kau tidur seperti biasa..Bersama kita ucapkan doa sebelum tidur...sambil tanganmu melingkar di leherku, kau tersenyum....Matamu yang mengantuk menatapku, bening dan bahagia....
Airmataku meleleh saat kau terpejam dengan senyummu masih dibibir dan tanganmu masih memeluk leherku...Aku mohon maafmu,Nak.. Ajari aku untuk mencintaimu seperti kau mencintaiku.... (dicopas dari sini)
Wallaahu a’lam bish-shawaab
materi audio dapat didownload disini
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Tuesday, July 20, 2010
MQ Pagi 20 Juli 2010
at 2:50 AM Tuesday, July 20, 2010Materi: Penting bagi kita untuk memiliki sifat wara'
Ringkasan Materi:
Wara' adalah sifat kehati-hatian dari sesuatu yang haram. Dalam pengertian yang lebih luas, wara' juga termasuk 'tidak adanya keberanian' untuk melakukan sesuatu yang bisa membawa pada yang haram ...
Penting bagi kita untuk memliki sifat Wara', karena dengan sifat itulah kita dapat menjaga diri kita sendiri dari hal-hal yang tidak disukai Allah. Alangkah beruntungnya orang-orang yang selalu wara' dalam segala hal. Wara' ketika mendapatkan rizki dan wara' ketika menggunakannya. Seorang yang mempunyai sifat wara' akan memiliki kekuatan untuk selalu melakukan instropeksi setiap hari, setiap saat. Orang itu akan selalu bertanya tentang asal-usul hartanya, berkaca atas prilakunya setiap hari, lalu tanpa ragu-ragu bertindak melakukan perbaikan diri. Itulah seorang yang wara', yang melakukan segala sesuatunya disertai kekhawatiran atas ridhonya Allah ...
Teladan pribadi yang bersifat wara' dapat kita jumpai pada diri Khalifah Umar bin Abdul Azis. Meskipun jabatannya sebagai khalifah pendek, namun keteladanannya dalam sifat wara' telah melegenda. Salah satunya tergambar ketika sang Khalifah mematikan lampu ketika menerima tamu, dengan alasan bahwa si tamu membawa urusan pribadi, sedangkan lampu rumah beliau dibiayai oleh negara ...
Bagaimana dengan kita? seberapa jauh sifat-sifat wara' melekat dan terinternalisasi dalam diri kita? seberapa sering kita bertanya tentang kehalalan rizki yang kita terima? Tidakkah kita takut di rumah kita terselip barang haram? sudahkah kita instropeksi atas profesi dan pekerjaan kita, jangan-jangan ada barang tidak halal menjadi sumber nafkah keluarga kita?
Mari kita tumbuhkan sifat wara'. Mari kita memohon pada Sang Malik agar menolong kita, dengan menganugerahi kita sifat wara' .... (dicopas dari sini)
Wallaahu a’lam bish-shawaab
materi audio dapat didownload disini
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Saturday, July 17, 2010
MQ Pagi 17 Juli 2010
at 2:34 AM Saturday, July 17, 2010Materi: Bersandar hanya kepada Allah
Ringkasan Materi:
Imam Ali pernah memberikan nasehatnya yaitu : “Barang siapa hidupnya bersandar pada harta maka hidupnya akan miskin........Barang siapa hidupnya bersandar pada harga diri maka hidupnya akan hina.......Barang siapa hidupnya bersandar pada akal maka hidupnya akan sesat...........Namun barang siapa hidupnya bersandar hanya pada Allah maka hidupnya tidak akan miskin, sesat ataupun hina”
Seringkali kita resah dan gelisah perihal rizki, padahal tiap hari dalam hidup kita Allah mencukupkan rizki bagi kita. Tugas kita di hanyalah mencari karunia Allah dan itupun tidak selalu identik dengan harta. Hal yang harus kita khawatirkan adalah apakah kita jujur saat mencari harta, bersyukur saat diberikan dan sabar saat Allah mengambilnya kembali. Dan sesungguhnya penghalang rizki kita adalah dosa kita sendiri. Dan dosa yang paling sering menjadi penghalang adalah perasaan tidak yakin, menyangsikan janji dan pertolongan allah, untuk itu periksa dan terus periksa diri sudahkah kita menyandarkan hidup kita pada Allah sang maha kaya ?? (dicopas dari sini)
Pemateri: Syech Kholil
Materi: Kisah Julaibib ra
Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.
Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”
Demikianlah Julaibib.
Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi saw. “Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”
“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”
Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, “menikahkan putri kalian.”
“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”
“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis
“Ya. Untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”
“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”
Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”
Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :
“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)
Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”
Doa yang indah.
***
Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.
Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya.
Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita.
Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!
***
Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.
Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak Ya Rasulullah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.
“Tidak Ya Rasulullah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.
Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.
Para sahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”
Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.
Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..
dia adalah bagian dari diriku
dan aku adalah bagian dari dirinya
-Rasulullah, tentang Julaibib- (dicopas dari sini)
materi audio dapat didownload disini
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Tuesday, June 22, 2010
MQ Pagi 22 Juni 2010
at 7:58 PM Tuesday, June 22, 2010Ringkasan Materi:
Kehidupan dalam dunia ini adalah sementara. Seberapa cintakah kita pada dunia? Cara mengukur hubbud dunia atau cinta dunia dapat dilihat dari 2 hal berikut:
- Barang yang kita miliki adalah ciptaan Allah. Jangan sampai barang yang kita miliki menjadikan kita merasa terhormat. Sesungguhnya kemuliaan di sisi Allah bukan dilihat dari harta benda yang kita miliki, melainkan ketakwaan lah yang membuat seseorang mulia di mata Allah.
- Kenalan kita. Terkadang kita merasa bangga memiliki teman yang punya jabatan tinggi atau terkenal. Sesungguhnya yang membuat kita bersyukur adalah ketika memiliki kenalan orang-orang yang bertakwa.
Evaluasilah diri kita setiap hari, bahwa Allah SWT yang berhak menilai. Sesungguhnya jabatan, popularitas dan semuanya yang melekat pada manusia adalah sama di mata Allah yang membedakan adalah ketakwaannya. Dan sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal dalam hidup kita. Allah SWT mengulang-ulang kata takwa di Al-Qur’an. Hal ini menandakan bahwa begitu penting dan banyak keutamaan dari takwa.
Kerugian dan kesengsaraan yang paling dirasakan oleh manusia adalah ketika menghadap Allah dengan tidak menggunakan pakaian takwa seperti dalam QS. al-A'raf (7) ayat 26. Hakekat ketakwaan di mata Allah adalah ketika kita menaati Allah di atas cahaya Allah dan meninggalkan kemaksiatan pun di atas cahaya Nya. Mari kita periksa hati kita karena sesungguhnya dunia ini hanya sementara dan semoga Allah menempatkan dunia dengan tepat di hati kita. (dicopas dari sini)
Wallaahu a’lam bish-shawaab
materi audio dapat didownload disini
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Sunday, June 20, 2010
MQ Pagi 18 Juni 2010
at 8:17 PM Sunday, June 20, 2010Materi: Makanlah sesuatu yang halal dan baik
Ringkasan Materi:
Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik, yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar-benar menyembah kepada-Nya (QS. Al Baqarah: 172)Kenapa pada ayat ini Allah menyebut orang yang beriman? Karena orang beriman adalah orang yang hidup dalam kebenaran, berbeda dengan orang yang kafir, Allah menyebut orang kafir sebagai orang yang tuli, bisu dan buta
"Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti" (QS. Al Baqarah: 171)Dan pahamilah, tatkala keimanan kita bertambah, maka akan bertambah pula kehidupan kita disisi Allah. Hal ini akan menyebabkan buahnya juga akan bertambah, seperti: kesungguhan untuk mengamalkan yang perbuatan yang baik. Makanan yang disebutkan pada surat Al Baqarah: 172 ini adalah makanan yang setidaknya mempunyai 2(syarat) pertama, makanan ini dihalalkan oleh Allah kedua, cara mendapatkannya juga harus halal.
Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR. Muslim)
Wallaahu a’lam bish-shawaab
materi audio bisa didowload disini
Labels: Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Monday, June 7, 2010
MQ Pagi 08 Juni 2010
at 10:56 PM Monday, June 7, 2010Materi: Jangan merasa sepi, Allah selalu bersama kita
Ringkasan Materi:
Semoga Allah menggolongkan kita menjadi orang yang tidak pernah merasa sendiri, karena memang hakekatnya kita tidak pernah benar-benar sendiri. Meskipun berada di hutan rimba yang lebat, atau kamar tertutup, di jalan sepi dan dimanapun juga sesungguhnya Allah pasti ada bersama dengan kita. Seperti dijanjikan Allah dalam penghujung ayat 4 surat Al Hadiid “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan”
Ketika kita menyadari dengan sepenuh hati bahwa Allah maha dekat dan maha mengetahui kebutuhan dan isi hati, kita tidak akan pernah merasa kesepian. Karena Allah tidak menyerupai dan diserupai apapun, tidak berarti Allah menjadi lebih jauh dari yang kita sangka. Tertulis dalam Al Quran surat Qaaf : 16 “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”
Siapapun yang memahami ayat di atas tidak akan pernah merasa sepi dan selalu ingat bahwa allah menyertai tiap langkah, tiap perbuatan dan bahkan tiap pemikiran yang melintas dalam kepala kita. Dengan menyadari hal tersebut, manusia tidak akan mudah terpancing untuk curhat permasalahan kepada manusia lain yang tidak jauh berbeda lemahnya dengan kita, tidak akan mencari perlindungan kepada mahluk lain tapi hanya selalu berlari dan berlindung serta mencurahkan seluruh isi hati pada yang menguasai setiap hati yaitu Allah. Dalam hal inipun Allah berfirman dengan sangat gamblang dalam surat al hadiid : 6 “ Dan Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia maha mengetahui segala isi hati”
Untuk Itu teruslah berzikir mengingat allah, agar kita jauh dari perasaan kesepian dan kehampaan hati karena Allah sesungguhnya terus menyertai tiap langkah kita. (dicopas dari sini)
Ikuti juga tausyiah dari Ustadz Kholil yang diterjemahkan oleh Ustadz Roni Abdul Fattah, materi hari ini tidak terlalu jauh dari materi yang disampaikan pada tanggal 13 Februari 2010 dan 30Maret 2010
Wallaahu a’lam bish-shawaab
materi audio dapat didownload disini
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Tuesday, April 6, 2010
MQ Pagi 06 April 2010
at 2:08 AM Tuesday, April 6, 2010Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Dunia bukanlah ukuran yang sejati
Ringkasan Materi:
Kita seringkali mengukur kesuksesan, kerugian, dan keberuntungan dengan takaran duniawi. Harta, jabatan, kepopuleran, kecelakaan, dan musibah sejatinya tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai seseorang itu sukses atau tidak.
Rasul pernah ditanya, orang yang paling beruntung itu yang bagaimana? Rasul menjawab "Barang siapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang beruntung, barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang rugi, dan barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia itulah orang yang celaka"
Menurut Rasul keberuntungan itu adalah jika kualitas hidup kita hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jadi, kesuksesan dan keberuntungan tidak ditentukan dari banyaknya uang, tingginya jabatan, dan kepopuleran. Musibah yang menimpa kita pun bukan ukuran bahwa kita celaka, boleh jadi itu adalah ujian untuk membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi seorang yang makin bertaqwa. Taqwa inilah keberuntungan yang sejati.
Dicabutnya nikmat dunia bukan berarti kerugian, asal hal ini dapat makin mendekatkan kita kepada Allah. Penderitaan, baik lahir maupun batin jika disikapi dengan baik maka akan menjadi sarana untuk menggugurkan dosa, dari sini akan ada banyak hal positif yang bisa didapat antara lain: hati menjadi lembut, ibadah menjadi khusyu', akhlak menjadi lebih baik, tawadhu, dan istiqomah.
Lihatlah berapa banyak orang dengan dunia berlimpah tetapi jauh dari Allah, hatinya goyah, cenderung melakukan maksiat dan munafik.
Sesi II
Pemateri: Syech Kholil dari Madinah bersama Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Tiga hal yang mesti kita perjuangkan
Ringkasan Materi:
Berikut ini adalah doa yang senantiasa dipanjat oleh Rasulullah saw:
Allahumma inni as'aluka 'Ilman naafi'an, wa rizqan tayyiban, wa 'amalan mutaqabbalanDalam doa ini Rasul memohon kepada Allah 3(tiga) hal, ketiga hal ini sebaiknya juga dapat selalu mewarnai kehidupan kita.
"Ya Allah, aku mohon kepadamu agar engkau memberi kamu ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik, dan terimalah amal ibadah kami"
Ilmu yang bermanfaat - Carilah ilmu sebanyak-banyaknya baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat, jangan sampai hari-hari kita terlewati tanpa ada pertambahan ilmu.
Rejeki yang baik - Setidaknya ada 2(dua) syarat yang harus dipenuhi agar rejeki dapat dikatakan baik jika zat dan cara memperolehnya juga halal.
“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka nerakalah yang pantas baginya.” (HR. Tirmidzi)Amal yang diterima - Ini merupakan tujuan setiap muslim, ada beberapa syarat agar amal kita diterima Allah, yaitu:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan surga atas tubuh yang tumbuh dengan yang haram.” (HR. Abu Nuaim)
“Kemudian Ia (Nabi Muhammad Saw) menyebut seorang laki-laki yang sudah jauh perjalanannya, kusut rambutnya dan berdebu pakaiannya, ia selalu mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa, ya Tuhan, ya Tuhan, tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan tumbuh dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doa itu akan dikabulkan oleh Allah.” (HR. Muslim)
- dilakukan ikhlas karena Allah, bukan untuk mencari duniawi
- dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasulullah
- sempurna, dalam arti amal dilakukan secara murni hanya kepada Allah. Tidak boleh beribadah kepada Allah dan menyertai amalan itu dengan pergi ke dukun
Umar bin Khatab Ra, berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang mengamalkan suatu amal (ibadah) yang tidak pernah kami lakukan, maka amalnya itu ditolak.” (HR. Muslim)
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Monday, March 29, 2010
MQ Pagi 30 Maret 2010
at 9:15 PM Monday, March 29, 2010Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Materi: Mencari keridhaan Allah
Ringkasan Materi:
Saat ini Aa' berada di Darul Islah, mini islamic center yang ada di Tangerang. Melihat bangunan masjid yang belum jadi seperti ini yang terlintas dalam pikiran adalah kesan bergantung kepada makhluk yang jauh lebih besar daripada bergantung pada Allah. Disetiap pembangunan masjid selalu saja terlihat orang meminta-minta, tidak peduli sudah masuk waktu sholat, tetap saja mereka meminta. Harusnya proses pembangunan masjid harus didasari dengan pondasi keimanan yang kuat. Kalau tersendat, sebaiknya periksa niat dan cara ikhtiarnya, tobat, apakah mulai melenceng ?
Saat proses membangun pasti terdapat perbedaan pendapat terkait dengan aturan pembangunan terkait madzhab tertentu dan kalau sudah selesai pasti ada perasaan merasa berjasa. Padahal, sebuah masjid bisa berdiri hanya karena kehendak Allah semata, kita hanyalah jalan.
Ini penting untuk dikoreksi, jangan sampai perjuangan kita membangun masjid menjadi sia-sia, tidak beroleh pahala lantaran sikap sombong kita. Mending mana? menghilangkan perasaan berjasa atau menghilangkan pahala?
Allah Maha Tahu kalau hati kita memang menginginkan pujian manusia, mudah bagi Allah menggerakkan hati makhluk untuk menyebut-nyebut jasa kita. Kalau hati kita memang menginginkan itu, sudah...Allah bakal memberikannya. Dan hilanglah kesempatan untuk mendapatkan ridhaNYA, karena keinginan kita sudah tercapai yaitu dipuji oleh makhluk. Maka dari itu, lakukanlah segala sesuatu hanya karena mengharap ridha Allah, seperti kisah keikhlasan seorang prajurit dibawah ini.
Suatu ketika, dalam sejarah, pasukan kaum muslimin pimpinan Maslamah bin Abdul Malik tengah kebingungan menembus benteng musuh yang telah dikepung berhari-hari. Padahal pada benteng itu ada sebuah celah yang bisa dimasuki namun nggak ada satupun orang yang bisa melakukan hal itu. Sampai suatu saat seorang prajurit — yang tidak diketahui namanya – ternyata bisa melakukannya bahkan dengan aksinya itu akhirnya kaum muslimin memperoleh kemenangan!
Jelas aja Maslamah bin Abdul Malik gembira dan ingin berjumpa dengan ’sang penakluk’ benteng nan gagah berani itu. “Aku minta agar prajurit ‘penyusup’ ke benteng musuh datang menemuiku!” pintanya.
Namun tak ada seorang pun prajurit yang datang memenuhi permintaan Maslamah. Sampai datang seseorang memasuki kemahnya. “Aku akan memberitahu pada Anda siapa prajurit itu,” kata laki-laki itu. “Tapi orang itu mengajukan tiga syarat pada Anda; pertama, janganlah Anda menuliskan namanya dalam surat Anda kepada khalifah. Kedua dan ketiga, janganlah Anda memberinya hadiah dan bertanya dari kabilah mana ia berasal.” Setelah Maslamah menyanggupi permintaan itu barulah laki-laki itu berkata, “Saya adalah orang masuk ke dalam benteng tersebut.” Dan Maslamah pun tidak pernah tahu siapa nama prajurit tersebut.
Yang terpenting dari pembangunan masjid adalah membangun yang memakmurkannya, membangun jamaah.
Sesi II
Pemateri: Syech Kholil dari Madinah bersama Ustadz Roni Abdul Fattah
Materi: Keutamaan Akhlak Baik
Ringkasan Materi:
Melengkapi materi tentang akhlak baik yang disampaikan Syech Kholil tanggal 13 Februari 2010, ada beberapa hal yang perlu ditambahkan, yaitu:
- Akhlak baik akan menaikkan derajat seseorang di dunia dan akhirat
- Akhlak baik adalah bukti keimanan seseorang
“Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al Hakim)
“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.”(HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam Oleh Bukhari dan Muslim, diriwayatkan dari Abi Mas'ud Al Badri oleh Muslim, dan diriwayatkan dari Hudzaifah olehMuslim dari Nabi s.a.w sebuah kisah.
Ada seseorang dari zaman dahulu (sebelum Nabi s.a.w) yang meninggal lalu dihisab oleh Allah amalnya, maka tidak terdapat kebaikan sedikit pun dariperbuatannya kecuali dia itu orang yang suka mempergauli manusia dalam masalah jual beli dan hutang piutang. Dia orang yang suka mempermudah urusan danmenyuruh anak-anaknya agar mempermudah urusan orang yang dalam kondisi sulit (toleran dalam hutang dan jual beli). Dalam riwayat lain laki-laki ituberkata pada anak laki-lakinya sebelum meninggal :
" Jika engkau bertemu orang yang dalam keadaan sulit, bertoleransilah (berilah tangguh hutang, atau murahkan harga barang), mudah-mudahan Allah banyakmemaafkan kesalahan kita. "
dalam riwayat Hudzaifah dikisahkan dialog dengan Allah s.w.t :
" Apa yang engkau perbuat di dunia ? "
Laki-laki itu menjawab, " Tuhanku engkau beri hamba uang, dengan uang itu hamba berjual beli dengan manusia, dan hamba mempunyai sifat toleran (sabarpada orang yang dalam kesulitan). Hamba memudahkan urusan orang-orang yang sulit dan memberi tangguh hutang (sampai mampu membayar) "
Allah berfirman, " Aku lebih berhak berbuat toleran daripada dia, jauhkanlah azabku dari hamba-Ku ini, " perintah Allah.
Semoga sedikit ilmu tentang keutamaan akhlak baik ini dapat diamalkan, bukan hanya didengar dan diketahui saja.
Wallaahu a’lam bish-shawaab
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
Friday, February 12, 2010
MQ Pagi 13 Februari 2010
at 4:13 PM Friday, February 12, 2010Pemateri: KH Abdullah Gymnastiar
Lokasi: Masjid Baitul Amal - Batam
Materi: Ridho
Ringkasan Materi :
Kunci dalam menghadapi setiap persoalan hidup adalah kemampuan untuk ridho, karena dengan ridho, hati akan menjadi sejahtera, jiwa menjadi tentram. Karena, dengan tidak adanya ridho akan membuat masalah terasa semakin menekan, dan pada akhirnya menyebabkan stress yang berkepanjangan.
Segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dan ijin Allah, dan pasti terbaik buat kita. Semua telah diatur dan direncanakan oleh Allah yang Maha Baik, jadi tidak mungkin ada kedzoliman.
Karena semua kebaikan "yang menimpa" kita berasal dari "sisi Allah" dan keburukan "yang menimpa" kita adalah disebabkan diri kita sendiri (dari nafs kita sendiri), karena ketika kita mengikuti segala perintah Allah dan cara-caranya, maka yang menimpa kita semuanya berupa kebaikan, dan sebaliknya.
"Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (QS. Al Baqarah: 216)Ridho bukanlah pelarian atas kejadian yang menimpa, jangan lantas bersembunyi dibalik sikap ini ketika ada masalah menghampiri. Ridho bukan berarti berpasrah tanpa ikhtiar.
Ridho adalah awal dari solusi. Bila nasi telah menjadi bubur, yang pertama kali harus kita lakukan adalah ridho, dilanjutkan dengan mencari cakue, kacang polong, ayam dan bawang goreng. Jadikan bubur ayam special. Baru setelah itu kita evaluasi diri, kenapa kok bisa niat memasak nasi kok jadi bubur, temukan masalahnya, ambil hikmahnya, dan berubahlah untuk menjadi lebih baik.
Sesungguhnya, kita menderita bukan disebabkan kenyataan, tetapi dikarenakan tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Karena, mau ridho ataupun tidak, segala sesuatu yang ditakdirkan Allah pasti terjadi.
Setiap masalah yang ada, kejadian demi kejadian seyogyanya bisa dijadikan bahan renungan, karena tidak ada kejadian sia-sia, tidak ada kejadian kebetulan, semua telah direncanakan oleh Allah.
Sesi II
Pemateri: Syech Kholil dari Madinah bersama Al Ustadz Roni Abdul Fattah
Lokasi: Masjid Daarut Tauhid - Bandung
Materi: Akhlak Baik
Ringkasan Materi:
Buah dari akhlak baik, antara lain:
- Menjadi penyebab masuknya kita kedalam surga Allah swt
- Kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah
- Memberatkan timbangan di hari kiamat nanti
- Allah akan mencintai kita
- Kita akan bersama Rasul di hari kiamat
- Manusia akan mencintai kita
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk surga? Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Beliau juga ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk neraka, maka beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan”
(HR. Tirmidzi, dia berkata : ‘Hadits hasan shahih).
"Tidak ada sesuatu yang dapat memperberat timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari Kiamat selain kebaikan akhlaknya". (HR. Tirmidzi)
Rasulullah menyatakan dengan sangat gamblang bahwa hamba yang paling Allah suka adalah manusia yang paling baik akhlaknya.Hamba yang paling Allah suka di sisi-Nya adalah yang terbaik akhlaknya (Shahih al-Jami' al-Shaghir : 179)
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat berkata : “Ya Rasulullah…kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiquun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong” (HR. Tirmidzi, ia berkata ‘hadits ini hasan gharib’. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi)
- Kita akan bangkrut dari amal kebaikan di akhirat
- Kita akan jauh dari majelis Nabi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata,
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wasallam bersabda:
“Tahukah kamu siapa sebenarnya orang yang bangkrut?”
Para shahabat menjawab,
“Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda”.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wasallam berkata,
“Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpah kan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikan nya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka (yang pernah dia zhalimi) ditimpakan kepadanya dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka.”
(HR. Ibnu Hibban, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad dan selain mereka)
Labels: Abdullah Gymnastiar, Roni Abdul Fattah, Syech Kholil View Comments
